Kesatria – De brief voor de koning

  • Judul buku : Kesatria – De brief voor de koningkoning
  • Penulis : Tonke Dragt
  • Tahun terbit : 2012
  • Penerbit : Pionirs books


Buku ini bersetting di Eropa dengan nama nama yang identik dengan kerajaan di jaman Abad Pertengahan. Bercerita tentang sebuah janji yang harus di tepati oleh seorang kesatria. Buku ini termasuk dalam kategori buku anak – anak. Pemeran utamanya adalah seorang anak berusia 16 tahun.

Awal dari cerita ini dimulai dengan sebuah adat tentang seorang anak sebelum di angkat menjadi kesatria. Seorang calon kesatria harus bertirakat semalam suntuk tanpa boleh keluar, sekalipun ada orang lain yang meminta tolong. Akan tetapi Tiuri melanggar perintah tersebut. “Demi Tuhan, Bukakan Pintu”, kata yang ia dengar dan membuat dia penasaran. Mulailah petualangannya mengantarkan sebuah surat ke negara tetangga, surat yang menentukan nasib sebuah negeri. Tidak ada cerita yang menarik tanpa drama. Petualangan bagaimana Tiuri bisa lolos sampai di negara bagian, bertemu dengan teman sejatinya, disangka sebagai pembunuh dan di kejar – kejar sampai hampit celaka, mendapat bala bantuan yang tidak dia sangka. Yang menarik adalah bagaimana dirinya sebisa mungkin meyakinkan dirinya bahwa orang yang disampingnya adalah kawannya.

Pelajaran yang saya dapatkan adalah :

  1. Sebuah janji, dan kepercayaan harus kita pegang kukuh, bagaimanapun keadaannya.
  2. Melanggar satu buah aturan mungkin akan membuat kita menggerutu, tetapi insting dan keyakinan melakukan hal yang benar akan membuat kita melampaui nilai dari aturan
  3.  Dalam sebuah proses pencarian, terutama pencarian jati diri, proses pencarian itulah yanh penting. Proses pencarian itulah yang membuag kita menemukan bukan penemuannya yang berarti
  4. Hal yang paling penting bukan apakah kabar yang dibawa itu membawa rasa senang atau sedih, tetapk keberhasilan menyampaikan sebuah pesan sesuai janji, dengan gagah berani, dan dengan pantang menyerah, walaupun bahaya menghadang.
  5. Setelah semua petualangan di lakukan, kita akan mampu berdiri di tempat sama tetapi dengan pandangan yang berbeda, pandangan yang lebih luas, lebih dalam dan jauh.

Nilai – nilai di dalam buku ini sangat bagus untuk di pelajari seorang anak. Tanpa teknologi yang membuat kita pusing, dengan membaca ini kita disuguhi pemandangan yang memutar imajinasi tentang keindahan alam abad pertengahan.
RE 2 FT, Yogyakarta. 5 April 2017

Lintang Fajar

Hidayah oh Hidayah

Sudah sejak lama aku mengenang kata itu. Aku sudah sering mendengar tapi belum begitu kerasan. Definisi dari hidayah yang sering aku dengar entah mengapa belum mau juga membujukku untuk tunduk pada syariat. Aku masih merasa bahwa aku belum pas dengan role model begitu. Sampai pagi ini

Ada sebuah teguran dari ‘sebut saja namanya Ang’. Bahwa apa yang telah aku jalani tentang niatan yang telah aku coba. Mencoba untuk bertaubat, tetapi sehari setelah itu kambuh lagi. Itu semua adalah sinyal hidayah dari Allah, yang diturunkan kepadaku. Terima kasih Ang.

“Hidayah itu dijemput, bukan di nanti”. Aku pernah mendengar kata kata tersebut. Namun, saat itu aku belum memahaminya sepenuhnya. Hari ini, pemahamanku sedang terbuka. Aku tidak bisa berjanji, juga tidak bisa mengatakan bahwa aku telah bertobat. Aku hanya bisa mengatakan bahwa aku akan menjemput hidayah itu. InsyaAllah. 

Akan kucoba untuk melakukannya secara perlahan. Karena aku bukan seseorang yang cukup hebat untuk menerapkan semuanya secara radikal. Ada hal – hal dalam agama yang bisa aku terima dengan penuh, dan ada juga hal – hal yang masih membutuhkan pengartian ulang untukku bisa menerimanya. 

Terima kasih Ang, aku akan mencoba menjemputnya. Doakan aku istiqomah di jalan-Nya. Aamiin.

Kana 10, Yogyakarta. 5 April 2017

Lintang Fajar

Rasa yang terus berubah, Oh Kawan

hqdefault

Ketika aku melangkah kaki di sepanjang koridor kampus hijau ini tak kusengaja kutemukan dua orang sahabatku. Namanya Ani dan Ali. Dua orang dengan kepribadian yang saling berterbelakang. Mereka ada di sudut kantin jalan protokol keteknikan. Ku sambangi mereka. Saat itu aku melihat ada yang berbeda dengan keduanya. Ani dengan Hijab lebarnya tengah memukul badan dari si Ali, dan berteriak “Dasar Playboy”. Kudekati mereka. Aku duduk di kursi depan mereka, kursi putih dengan lengan aluminium dan meja kotak, meja yang khas untuk makan.

Lintang : “Hai, sepertinya asik”. (Sambil aku menggeser kursi di depan mereka). Continue reading “Rasa yang terus berubah, Oh Kawan”

Pencarian dan Perempuan

ohmiss

Sabtu 1 April 2017, Menjadi hari yang tak terduga untukku. Seseorang yang aku pikir tidak mengenaliku ternyata masih mengenalku. Berawal dari chat yang iseng di LINE, tidak kusangka ia akhirnya akan menjawab chat ku. Aku pikir dia bukanlah seseorang yang sangat Waw. Hanya saja ketawaduan dan perbincangan yang manis dulu serta kepribadian yang lembut dan menyentuh membuatku takut. Ia yang pandangannya begitu kalem, membuatku tidak bisa berjalan dengan biasa, membuatku merasa aku tidak pantas untuk mendekatinya bahkan sekadar untuk mengobrol, pandangan yang terjaga, juga tutur kata dan pola pikirnya membuatku harus berpikir berulang kali hanya untuk membalas satu buah chat darinya. Continue reading “Pencarian dan Perempuan”

Celoteh Malam Jum’at

Dapet sebuah pesan dari denismalhotra.wordpress. com tentang mana yang lebih utama

Berjuang untuk menikah atau menikah untuk berjuang ?

Aku cenderung setuju bahwa banyak yang lebih memilih untuk berjuang dulu, baru setelah mapan terus menikah. Tetapi rasa yang di dapat kurang, karena saat itu tinggal menikmati yang ada. 

Berbeda dengan pendekatan pertama, aku lebih suka (aku blm menikah loh) dengan arti yang kedua. Menikah  untuk berjuang yang berarti pernikahan menjadi pintu gerbang sebuah perjuangan yang lebih keras. Permasalahnnya adalah saat sekarang makin jarang perempuan yang mau menikah untuk berjuang. Apalagi mahasiswa yang terbiasa enak – enak mendapatkan uang saku, berani kah menikah ? Memang akan semakin sulit kehidupan seorang yang masih harus mencukupi kebutuhan hidupnya, ditambah jika ia adalah anak pertama, ada rasa beban lebih. Butuh keberanian ekstra untuk melakukannya. 

Seperti seorang penjelajah yang berhasil menaklukan sebuah daerah misteri, rasanya seorang yang menikah untuk berjuang memang seorang pejuang sejati. Beranikah penulis melakukannya ? Atau lebih tepatnya adakah perempuan yang mau berjuang bersama ?

I hope you
Kos kana – Yogyakarta, 30 Maret 2017

Lintang Fajar

Pos Pertama !|

This is the post excerpt.

Gambar berikut adalah gambar dari postingan pertama wordpress secara default.

post

Seperti hidupku yang penuh dengan ranjau yang kutebarkan sendiri. Harapanku aku mulai untuk bisa melangkah dengan lebih berani, merayap dengan lebih bebas, berdiri dengan lebih tegap, menatap dengan lebih tenang, dan mengakhiri dunia ini dengan senyuman.

Karena aku introvert, aku tidak terlalu suka membagi apa yang kurasakan dengan orang lain, tetapi tidak berbagi juga mendatangkan keresahan tersendiri. Di website ini lah, aku mencoba untuk melampiaskan apa yang ku pikirkan dan ku rasakan. Bagi yang berkenan untuk sharing. Come with me ?

Mengapa tidak facebook ? Facebook terlalu umum. Selain itu, dengan blog aku merasa lebih punya kendali penuh atas pos yang telah aku terbitkan. Tentu saja tampilan web juga bisa di atur sendiri. Hehe
Kos kana 10, Yogyakarta

Lintang Fajar