Manuver : Bis

Foto hanya ilustrasi, karena aku lupa motret. Hehe

Beberapa bulan terakhir ini, kondisi fisik gampang mabuk ku kumat. Terutama jika bis itu tertutup. Hari minggu kemarin (16/04/2017), rencanaku mau naik kereta lokal prameks (prambanan ekspress). Aku sampai di setasiun pukul 17 seperempat, tiket sudah habis. Terpaksa aku wajib naik bis dari Kutoarjo ke Jogjakarta. Aku naik bis dari depan pool Sumber Alam kutoarjo sekitar pukul 18.30-an. Bis yang kutumpangi ada di bawah bendera Raharja. Aku sudah harap – harap cemas akan mabuk, ditambah kondisi di dalam bis yang penuh. Baru jalan beberapa meter saja mual ku mulai naik, tapi selepas kota kutoarjo bis ini menjadi lebih mantap. Ini peristiwa yang menarik untukku ;

  • Pertama, keberanian supir buat menyalip efisiensi (bus yang terkenal garang kecepatanya di jalur Cilacap Jogja) sebelum masuk terminal Purworejo. Ini awal yang menarik.
  • Kedua, jalur setelah pertigaan kota Purworejo macet, penuh mobil berjejer padat merayap. Lagi – lagi sopir ini menunjukkan kapasitasnya, dalam kondisi yang padat begitu bis mengambil sisi kanan jalan dan memotong jalur yang berlawanan, merangsek maju ke depan. Yang paling cool waktu menyalip di tikungan ke kanan memakai jalur sebelah kanan dengan keberanian dan perjudian antisipasi mobil dari sisi lawan. Aman ternyata. 
  • Ketiga, masih di kemacetan bis ini berani menyalip bis Rosalia Indah (bis kategori Patas eksekutif), serta menyalip di tikungan ke kiri dalam jalur di larang menyalip yang berupa garis tengah tanpa putus. Mantap.
  • Ke empat, rupanya kemacetan ini disebabkan ada dua truk gandeng di depan, ditambah medan jalan yang meliuk – liuk dan jalan yang tidak mulus alias banyak lubang. Jadi harus ekstra hati – hati. Namun, tetap bis ini melaju seperti di jalan mulus saja, setelah overtake dua bus gandeng di belakang bus trailer, langsung dilibas juga bus trailernya.
  • Kelima, setelah manuver gila – gilaan, dengan kondisi bis penuh. Mogok juga si bis. Gak lama sih, cuma di – starter kagak bisa, jadi harus di dorong sebentar. Waktu itu sempet aku denger supirnya bilang “gak biasanya dinamo nya mati begitu” Oohh aku baru tahu kalau mogok berhubungan dengan dinamo – motor tentu saja.
  • Ke enam, peristiwanya sudah masuk di DIY. Jalan – jalan di DIY termasuk cukup besar sehingga mampu di lewati 4 kendaraan, mungkin sih, kira- kira aja aku. Hehehe. Nah, bis ini melewati sebuah truk dari jalur kiri sampai mepet sekali dengan pohon, dan menyabet beberapa dahan, daunnya sempat masuk ke dalam bis. Agak mengerikan. 
  • Ketujuh, aku sempat kecewa karena Rosalia Indah berhasil mendahului kami sebelum masuk kota Wates. Mental kompetitif rupanya ditunjukkan si sopir. Selepas kota, overtake lagi dah tuh Rosalia Indah. Ada juga mobil kecil yang balap kami, tapi di balap lagi, kali ini lebih gila dengan menyalip mobil yang sedang menyalip truk, hampir habis sisi kanan. Debar – debar.
  • Ke delapan, di daerah Ambarketawang, bis ini mengovertake truk dengan pertimbangan yang minim dari mobil arah berlawanan, hampir saja crash dengan menyisakan jarak kurang dari 1 meter dengan bamper belakang truk di depannya.
  • Ke sembilan, di daerah ring road selatan jogja, bis berpapasan dengan Bis dengan bendera “Sugeng Rahayu”. Bis asal Jawa Timur yang terkenal dengan kecepatannya. Harus aku akui akselerasi dari Sugeng Rahayu memang yahud, dengan spek diatas bis ini. Sekalipun begitu, Top Speed Driver (istilahku untuk menyebut keberanian sopir memainkan kelajuan bis) hampit sama, menempel ketat tepat di belakangnya sampai terminal Giwangan.

Dari perjalanan kemarin itu, aku belajar bahwa rasa mabukku dapat dihilangkan dengan menikmati manuver bis ini. Ketika bis berjalan dengan lambat atau stagnan aku cenderung boring, dan itu menyebabkan stimulus otakku datar. Memang yang di lakukan sopir itu aku akui, agak berbahaya, dan jika memang aturan lalu lintas di terapkan 100%, pantas bis ini mendapatkan kredit. But I Like It. 

Memainkan bahaya, melakukan manuver gila, kecepatan yang menegangkan, itu semua membuatku merasa hidup. Thanks pak Sopir. 

Manuver apa yang akan ku lakukan di hidupku ???

Kos Kana 10, Yogyakarta. 17 April 2017

Lintang Fajar

Advertisements

Catatan : kegalauanku

Sebuah pertemuan yang berharga 6 tahun lalu di perpustakaan sekolah pada bulan Agustus memberikan kisah tentang perasaan yang begitu dalam kepadaku. Sejak aku melihat wajah putih berbalut jilbab putih dengan sedikit motif bungan warna merah muda yang termenung mencari novel di antara rak – rak buku perpustakaan, saat itulah rasa hubungan dan harapan akan perempuan tumbuh. Kehilangan adik kecil di masa remaja membuatku mencari sosok yang mampu berbagi dalam setiap detik hidupku. Pertemuan tak sengaja itu, asa yang terbit, dan perkenalan lanjutan dengan kepribadianmu itu, membuat diri ini mengenal perasaan yang lebih dalam. Terima kasih NN. Kau telah menjadi sejarah bagi perasaan ini.

Sampai saat terakhir saat ini, aku masih berharap bahwa diriku masih akan memperjuangkan perasaan. Tetapi, rupanya takdir petualangan rasa ini berakhir. Setelah kemarin lusa berembug dengan kakak dari pesantren, tentang bahwa mencintai seseorang adalah sesuatu yang wajar. Bahkan aku diajarkan mendoakan yang terbaik, tidak aku sangka, hari ini hati ini mampu melepas perasaan yang bergelayut, menghilangkan noda dan rona selama 6 tahun terakhir.

Oh Tuhan, anugerah dan kuasamu sungguh mulia. Engkau perjalanankan hamba yang lemah ini dalam puzzle kehidupan tak terbantahkan. Hati yang keras ini, telah menemukan seonggok harapan yang Engkau taburkan. Akankah hamba mampu konsisten di dalamnya ? 

Teruntuk perempuan yang selalu membuat hatiku bergemuruh, maafkan aku yang tidak mampu sesempurna harapanmu. Maafkan aku yang masih mencari arti dari perasaan ini. 

Demi Tuhan yang jiwaku ada di tanganNya, akan aku ikuti kemana kau gerakkan hati ini. Ada banyak hal yang ku sangsikan, ada banyak hal terlintas, hatiku… Kau milikku dan kita akan kembali ke pencipta kita. Mari kita lewati semua bersama dengan tekad yang penuh, dengan tekad yang tidak perlu diragukan. Wahai otak dan logikaku. Berkompromi, bekerja sama, dan berkolaborasilah dengan hati. Tundukkan egomu. Dan fisik, dukunglah elemen mental. Semoga kita mampu mengungkap jawaban misteri kehidupan senja ini.
On the way bus Raharja, Purworejo. 16 April 2017

Lintang Fajar

Catatan 5 Fuse

Satu kejadian pada hari selasa lalu yang belum sempat aku rekam di blog ini. Waktu itu praktikum chopper elektronika daya di lab. Sejujurnya, secara teori aku belum begitu menguasai materi ini, tetapi aku suka praktikum ini, karena di praktikum ini mahasiswa di amanahi trainer satu – satu, dan setiap kecelakaan satu komponen pun ditanggung mahasiswa. Penting sekali untuk memahami teori agar tidak merusak alat. Karena kalau sampai alat yang rusak akan mahal harganya.  

Kebebasa berekspresi, itulah kesan yang aku rasakan. Hanya saja ini dalam bentuk sebuah ujicoba rangkaian, namun fakta bahwa aku bisa bebas merangkai seperti apa dan penting untuk berani mengambil risiko nya, itulah hal yang kusukai. Seperti hari itu,

Percobaan petama, setelah rangkaian pertama gagal, aku copot semua kabel dan hanya menghubungkan dioda dan scr, aku sambungkan… Gagal lagi, fuse /sekering putus. Karena masih belum percaya bahwa aku salah, aku masukkan lagi di catu daya, dan putus lagi. Aku merasa rangkaianku benar, tetapi fakta mengatakan gagal, pasti ada yg salah. Nah benar, kesalahanku adalah menancapkan kabel di dalam bridge dioda secara keliru sehingga terjadi short. Di coba ke empat, kali ini sudah benar, maka aku rangkai lagi. Dan sewaktu aku menghubungkan ke pemicu, lah kok putus lagi. Waduh, habis sekering empat sudah. Kesalahanku kali ini adalah menggunakan jalur pemicu yang salah. Di percobaan kelima, aku dengan rasa takut, menancapkan satu persatu kabel agak gemetar, takut salah. Dan jeder, tak sengaja ku senggol kabel, terjadi konslet lagi, putus lagi. Et dah udah lima sekarang. Hampir putus asa, yah sudahlah. Stok fuse terakhir, Jreng jreng. Akhirnya, jadi juga. Bisa diukur, dan I did it. Hurray !!!
Pelajaran yang di dapat, pelajari konsep secara baik (kalau ini aku masih belom bisa), hati – hati dalam menghubungkan setiap kabel, pastikan masing – masing sambungan aman, lihat semua indikator menyala dengan baik, dan yang paling penting nikmati praktikum nya. 


Satu mozaik hidupku kembali terbuka, bahwa memang berbuat salah itu menyeramkan awalnya, tapi rasa ketika berhasil melakukan hal yang kita anggap benar, menemukan solusi secara mandiri, itu benar benar memuaskan. Aku bukan orang yang menerima status quo, dan agak sulit dipaksa “hanya” mengikuti sistem. Akan kemana sifat ini membimbingku ? Aku tidak sabar dengan kesalahanku yang berikutnya. Kesalahan yang membuatku berproses menemukan jati diri ?
Jika ada yang bingung kenapa aku puas ketika aku melakukan kesalahan silahkan baca buku the great code. Rahasia orang berbakat. Hehehehe

Home Sidorejo, Kebumen. 15 April 2017

Lintang Fajar

Book : Rindu

Judul : Rindu
Penulis : Tere Liye
Tahun terbit : 2014
Penerbit : Republika, Jakarta

Exif_JPEG_420

Tak kusangka satu buah novel ini akan mengusik perasaanku. Sudah lama sejak kali terakhir aku berurusan dengan novel Indonesia. Mungkin sudah sekitar 1 – 2 tahun yang lalu aku membaca novel tebal – novel dengan jumlah halaman lebih dari 500.
Sebuah novel yang memukau untukku. Aku memang sangat suka novel yang bercerita tentang drama, terutama drama tentang perasaan pribadi, seolah – olah jalan ceritanya mengajak kita untuk intropeksi diri, untuk terus mempertanyakan tentang hal yang sebelumnya belum terlintas dalam pikiran kita.
Sekalipun novel ini berjudul “Rindu” tetapi tidak ada sosok rindu di dalamnya. Judul ini lebih kepada judul yang implisit dari sebuah perjalanan panjang. Kerinduan akan jawaban dari sebuah pertanyaan yang telah lama tersimpan. Bahkan untuk orang yang selalu memiliki jawaban untuk orang lain, tetapi ia justru tidak memiliki jawaban untuk dirinya sendiri. Kerinduan akan perasaan yang sejati, perasaan akan penerimaan yang luas. Sangat cocok untukku yang sedang menggalau, sedang mencari jawaban atas pertanyaan mendasar. Seperti yang sudah saya ceritakan dalam blog ku sebelumnya.
Cerita dalam novel ini adalah tentang pencarian jawaban dari lima tokoh utama: Daeng Andipati, Ahmad Karaeng, Ambo Uleng, Mbah Kakung dan Bonda Upe. Kelima tokoh itu bertemu dalam perjalanan Suci, menunaikan ibadah haji dengan kapal uap BLITAR HOLLAND di tahun 1938. Kapal Blitar Holland awalnya merupakan kapal kargo milik koninklijks Rotterdam yang kemudian di modifikasi menjadi kapal penumpang, dan ternyata itu lebih menguntungkan, salah satunya di gunakan untuk mengangkut jamaah haji. Kapal ini mengangkut jamaah haji dari berbagai wilayah di Indonesia, pertama dari Makassar, Surabaya, Semarang, Batavia (Jakarta), Lampung, Bengkulu, Padang, dan Banda Aceh dan transit di Kolombo (Sri langka). Perjalanan yang tidak mudah, terutama dari segi batin.
⦁ BONDA UPE
Pertanyaan pertama datang dari Bunda Upe. Bunda Upe adalah orang cina yang beragama islam. Sering memakai pakaian cina cheongsam. Bunda Upe juga orang yang suka sekali mengajar. Ia mengajar mengajar anak – anak membaca Al quran dalam Masjid Kapal. Masa lalu yang kelam di Batavia membawa dia dan suaminya – Enlai pergi ke Palu untuk belajar mengaji. Di Batavia dulunya dirinya adalah seorang cabo (Pelacur), tetapi dirinya menjadi cabo bukan karena keinginan dari dirinya melainkan karena keterpaksaan. Ia menjadi korban taruhan perjudian ayahnya. Setelah selama 15 tahun menjadi cabo level teratas di Batavia, ia pun tidak tahan dan ingin insyaf, kebetulan bertemu dengan teman masa kecilnya yang menjadi suaminya itu. Mereka memutuskan untuk pergi dari sana dan memulai kehidupan yang baru.

Pertanyaan yang diajukan adalah “Apakah Allah masih mau menerima orang penuh dosa seperti dirinya ? Apakah pantas untuk seseorang yang di dalam dirinya masih belum bisa menerima masa lalu untuk menunaikan ibadah suci ini ? ”

⦁ DAENG ANDIPATI
Daeng Andipati adalah salah satu saudagar kaya dari Makassar. Ia juga sempat belajar di Rotterdam, Belanda. Hal yang paling mengesankan dari dirinya adalah ia membiayai belajarnya secara mandiri dengan bekerja keras di Belanda, tidak meminta satu gulden pun kepada orang tuanya. —Sesuatu yang belum bisa aku lakukan, pengen sih, tapi belum bisa—. Ia juga memiliki seorang istri yang cantik dan dua orang anak perempuan yang lucu Elsa dan Anna yang menghiasi cerita novel ini dengan tingkah kekanakannya. Walaupun dari luar ia begitu sempurna, namun di dalam hatinya ia masih memiliki masalah. Ia memendam kebencian yang begitu kuat kepada Ayahnya. Ayah yang penuh dusta, dari luar terlihat sangat baik tetapi perilakunya amat buruk di keluarganya, menggunakan kekerasaan untuk hal yang sepele adalah hal yang biasa di lakukan untuk anggota keluarganya, istilah sekarang KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga).

Pertanyaan yang diajukan adalah “Apakah pantas orang seperti dirinya yang masih menyimpan rasa dendam, pergi menunaikan ibadah haji yang suci ?”

⦁ MBAH KAKUNG
Usia 80-an tahun, asal Semarang. Tokoh yang satu ini, memang kurang spesial, tetapi cinta sejatinya begitu memukau. Quote yang aku sukai

“Pendengaranku memang sudah tidak bagus lagi, Nak. Juga mataku, sudah rabun. Tubuh tua ini juga sudah bungkuk. Harus kuakui itu. Tapi aku masih ingat kapan aku bertemu istriku. Kapan aku melamarnya. Kapan kami menikah. Tanggal lahir semua anak – anak kami. Waktu – waktu indah milik kami. Aku ingat itu semua.”

Bahkan mereka melahirkan bayi mereka tanpa pertolongan bidan, cerita yang Waw. Namun naas, saat semua terasa sempurna, bahkan dengan usaha terakhir untuk menunaikan ibadah haji bersama, Tuhan berkata lain. Tuhan mengambil kembali jiwa Istri dari Mbah Kakung berpulang, sewaktu dalam perjalanan rute Banda Aceh – Kolombo. Jasad istrinya di makamkan ala pelaut, yaitu di makamkan di laut lepas, Samudra Hindia.
Pertanyaannya sederhana “Mengapa sekarang ? Mengapa Allah menyabut nyawa istrinya sekarang ? Sebelum mereka sempat haji bersama – sama ?”

⦁ AHMAD KARAENG (GURUTTA)
Ulama masyhur dari Makassar, yang ceramahnya saja bisa membuat Belanda ketakutan. Penuh dengan petuah – petuah yang bijak. Pernah belajar hingga ke Aceh, dan Yaman.
Pertanyaan yang menggelisahkannya adalah “Apakah aku pantas, orang yang mampu menulis tentang kemerdekaan tapi tidak berani melakukan hal itu secara nyata?”

⦁ AMBO ULENG
Ini adalah tokoh favoritku. Seseorang yang ikut jamaah haji, dan bekerja di kapal uap hanya untuk pergi dari perasaan yang menyemuti hatinya. Kisah di dalamnya sangat keren. Bagaimana dirinya bisa menggerakkan kapal uap dengan layar saat mesin kapal laut. dan puncaknya melumpuhkan perompak somalia dengan strateginya yang jitu.
Pertanyaan dirinya “Apakah yang harus aku lakukan untuk mengatasi perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan ini ?

“Nasib kadang bisa ditentukan oleh sesuatu yang tipis sekali. Bahkan bisa setipis kertas yang terjatuh di kantin kapal.”

“Tidak Masalah, Nak. Mata Air yang dangkal, tetap saja bermanfaat jika jernih dan tulus. Tetap segar airnya.”

“Tidak Selalu orang lari dari sesuatu karena ketakutan atau ancaman. Kita juga bisa pergi karena kebencian, kesedihan, ataupun karena harapan”
“Jika kau ingin menulis satu paragraf yang baik kau harus membaca satu buku. Maka jika di dalam tulisan itu ada beratus ratus paragraf, sebanyak itulah buku yang harus kau baca.”

Kesimpulan :
Kita tidak akan maju jika kita tidak menerima masa lalu kita apa adanya. Jika kita terus terjebak dalam kenangan yang memabukkan, akan sampai kapankah hal itu ? Memikirkan masa lalu, dan tidak belajar darinya hanya akan membebani diri sendiri. Membebani perasaan diri sendiri. Menerima masa lalu, adalah awal dari segala penerimaan yang lebih besar. Maafkanlah masa lalu, dan bukalah lembaran baru.
Berpikirlah tidak hanya dari sudut pandang, syukuri apa saja yang telah terlewat. Hidup bukan hanya tentang memikirkan perasaan pribadi, tapi ada nilai – nilai yang jauh lebih besar yang hanya bisa diterima dengan mengikhlaskan keadaan kita saat ini.

Saat pulang dari perjalanan haji, Mbah Kakung meninggal tepat atas samudra hindia. Di makamkan disamping Mbah Putri, di dalam samudra. Kuasa Tuhan, siapa yang tahu ?

Dibutuhkan keberanian untuk tidak hanya berkata. Sehebat apapun seseorang tidak akan berguna jika tidak berani berbuat secara nyata. Keberanian yang nyata, dan tekad yang kuat akan mampu menggetarkan musuh yang jauh lebih besar sekalipun.

Tentu ada lebih banyak mutiara hikmah yang bisa dipetik, tetapi aku terlalu bingung untuk menuliskan hikmah apa saja yang bisa diambil dari novel ini. Ini hanya lah tulisan kecil dari seseorang yang masih mencari jawaban atas pertanyaan dasar kehidupannya di dunia. Ada banyak sekali pertanyaanku di dunia ini, tapi aku sekarang mulai melihat, bahwa pertanyaan – pertanyaan itu tidak akan terjawab jika aku tidak bertindak nyata. Aku percaya, jawaban yang aku cari sudah ada, aku hanya perlu menjemputnya.

 

Kos Kana 10, Yogyakarta. 12 April 2017
Lintang Fajar

Book : Wither

Judul : Wither (Bagaimana Jika Kau Mengetahui Kapan Kau Akan Mati ?)
Penulis : Lauren DeStefano
Penerbit : Kantera,
Tahun Terbit : 2011

Exif_JPEG_420

Jujur saja, ketika pertama kali membaca arti maksud dari Judul Wither bagaimana jika kau mengetahui kapan kau akan mati sungguh menggegerkan rasa penasaran hati ini. But sejauh yang aku baca dari bab pertama, belum terasa momen itu. Dan kata Wither pun tidak aku dapati artinya secara tekstual. Kenapa Wither ? Aku juga belum tahu.
Kisah dalam novel ini dimulai dari dunia masa di depan dimana orang hanya akan mampu bertahan pada rentan usia dua puluh (20) tahun untuk perempuan dan dua puluh lima (25) tahun untuk laki – laki. Ini terjadi setelah perang dunia ketiga dan kemajuan teknologi yang besar – besaran di abad ke – 21, dimana semua obat dan suplemen di ciptakan untuk membuat manusia mampu bertahan di rentang usia yang jauh lebih lama. Akan tetapi, manusia lupa bahwa kemajuan teknologi dalam pengobatan yang luar biasa membuat kelainan genetik, sehingga manusia hanya mampu bertahan dalam usia yang sangat singkat. sebuah antidot (zat penyembuh kelainan genetik) mencoba untuk di ciptakan, tetapi itu membutuhkan percobaan berupa bayi – bayi muda serta manusia – manusia lain yang masih sehat. Terciptalah dua golongan yaitu pro – naturalis yang menginginkan penghentian riset antidot dan pro – saintis yang mendukung riset penemuan antidot.
Rhine, seorang perempuan muda (16) korban dari penjualan manusia untuk di jadikan pengantin muda untuk anak orang – orang kaya. Cerita ini lebih mengisahkan tentang perjuangan Rhine untuk keluar dari keluarga kaya yang telah meminangnya. Walaupun di dalam rumahnya dirinya dia mendapatkan semuanya, tetapi jiwa mudanya yang menginginkan kebebasan ternyata tidak bisa di cegah. Serta rasa simpati dan rasa enggan melihat manusia hanya dijadikan bahan eksperimen tanpa dibiarkan untuk hidup dan mati dengan sewajarnya. Rhine yang harus berpura – pura setia dan penuh pengertian dalam melayani suaminya, sesungguhnya hanyalah siasatnya untuk bisa kabur dalam penjara rumah itu.
Pelajaran utama yang bisa ku dapatkan, selama kamu percaya pada mimpimu dan terus berusaha, maka kau akan mendapatkannya. Akan ada orang yang mendukungmu serta perjalanan yang tidak terduga – duga.

 

Kos Kana 10, Yogyakarta. 11 April 2017
Lintang Fajar

Book : Andai Aku Jalan Kaki, Masihkah Engkau Selalu Ada Untukku ?

Exif_JPEG_420

Judul : Andai Aku Jalan Kaki, Masihkah Engkau Selalu Ada Untukku ?
Penulis : Edi Mulyono
Tahun Terbit : 2010
Penerbit : Yogyakarta, Diva Press

Pertama kali aku membaca judul buku ini, aku pikir ini adalah sebuah novel, ternyata buku ini adalah kumpulan cerpen. Cerpen yang ditulis oleh Edi Mulyono salah satu pendiri Diva Press. Buku yang aku baca ini ternyata adalah cetakan yang ke – 12. Lalu apa isi dari buku ini ? Aku tidak begitu pandai dalam merangkai kata. tapi aku akan mencoba menuliskan pelajaran yang aku dapatkan dari buku ini.

  1. Semua sudut pandang yang digunakan di dalam buku ini adalah sudut pandang orang pertama. Aku tidak tahu apakah yang tertulis disini adalah pengalaman atau apa. Bab satu bercerita tentang pertemanan karena seseorang memiliki banyak harta. Orang yang memiliki harta memang cenderung bisa melakukan banyak hal yang mereka mau. Dia memiliki kelebihan dalam hal kekuasaan, tetapi sering sekali hati mereka kosong. Hatinya hampa karena merasa tidak memiliki kawan – kawan yang benar – benar setia ada untuknya. Makanya penulis menyakan kepada dirinya sendiri “masihkah engkau ada untukku andai aku tidak sekaya ini ?”
  2. Cerita kedua tentang perasaan penulis yang kehilangan neneknya. Benar. Terkadang kita merasa bahwa sesuatu berharga ketika kita kehilangannya. Di suatu meme juga ada yang mengilustrasikan bahwa segala sesuatu menjadi sangat bernilai saat kita menginginkan atau kehilangan. Justru saat memilikinya, nilai itu menjadi berkurang. Sungguh luar biasa orang yang mampu bersyukur atas apa yang dimilikinya.
  3. Cerita ketiga mengisahkan tentang sebuah pertemanan diantara perempuan. ditulis dengan bahasa yang menyentuh perasaan. Hanya karena sebuah kesalahpahaman dari salah satu perempuan, ego yang ada di dalam dirinya terus muncul dan tidak mau mendengarkan penjelasan dari perempuan yang lain. Di sekitar kita pasti sering sekali ada orang yang seperti itu. Dan setelah hati kita, tenang dan menerima kenyataan bahwa hal itu adalah kesalahpahaman. Masalah sesungguhnya keluar, Beranikah kita meminta maaf ?
  4. Cerita keempat tentang pasangan yang posesif. Disini diceritakan laki – laki yang sangat mengontrol pergerakan perempuannya. Memiliki laki – laki yang sangat perhatian akan memberikan rasa nyaman, namun disisi lain, jika perhatian itu terlalu besar sehingga membuat si perempuan tidak bisa mengembangkan dirinya sendiri apakah masih layak untuk di pertahankan ?
    Mengutip dari Michael Foucault : Berbuat gilalah maka Anda akan berbeda. Tentu saja, jika kita berani melakukan sesuatu yang gila, out of the box, kita akan akan berbeda. High Risk, High Return. Besarnya sebuah impian, berbanding lurus dengan risiko yang didapatkan. Keberanian untuk melewatinya itulah yang membuat seseorang menjadi dirinya sendiri.

    Faktanya kita lebih takut memilih sesuatu bukan karena kita nggak yakin pada sesuatu itu, tapi lantaran kita takut pada ketakutan – ketakutan yang kita ciptakan sendiri pada sosok sesuatu itu, ketimbang menempuh ketakutan yang sebenarnya tak semengerikan yang kita andaikan. Kita kok cenderung memilih hidup dalam andaian belaka ya ?

  5. Cerita kelima tentang mengikhlaskan seseorang yang kita sukai. Mencintai seseorang memang hak setiap insan, tetapi merelakan adalah hal yang hanya sanggup dilakukan oleh insan sejati.
  6. Cerita keenam adalah tentang perasaan mantan pemakai narkoba yang masuk dalam jeruji besi. Bagaimana dirinya telah mengecewakan kedua orang tua, dan kepedulian dari saudaranya. Luka akan membuat kita mengenal lebih dalam tentang orang kita cintai.
  7. Cerita ketujuh adalah tentang kekhawatiran meminjamkan uang pada orang yang tidak di kenal. Apalagi orang yang meminjamkan tersebut tidak memiliki suatu jaminan, hanya cukup Allah sebagai jaminannya ? Apakah kita akan percaya ?
    Hati nurani akan menjadi jawaban yang menarik.
  8. Cerita ke delapan tentang kelebihan dari istri yang menyebalkan. Saat si Suami telah membanting tulang bekerja keras seharian, lalu di rumah disambut dengan perilaku istri yang seenaknya, tentu memberikan rasa jengah yang menumpuk, apalagi jika dilakukan setiap hari. Tetapi, disaat suami akan menalaknya, justru ia sadar bahwa istrinya itu telah memberikan sesuatu yang belum tentu mampu diberikan oleh perempuan lain. membangunkan salat subuh, menyiapkan sarapan pagi.
  9. Cerita ke sembilan adalah tentang penyesalan dari seorang pengguna Kecantikan Palsu. Tidak bisa dipungkiri bahwa melihat perempuan yang cantik akan sangat menggoda. Akan tetapi jika kecantikan itu di dapat dengan cara yang berlebihan (sedot lemak, suntik silikon, dll) maka, orang akan berpikir berkali – kali hanya sekadar untuk mencintainya dengan setulus hati. Toh kecantikan ada dua macam, inner beauty dan outer beauty. Mana yang lebih disukai ? Kembali pada pilihan masing – masing.
  10. Cerita ke sepuluh adalah tentang kekuatan tekad untuk tidak mudah termakan oleh gosip yang dalam bahasa sekarang HOAX. Orang yang mudah termakan hoax tidak pantas untuk dijadikan panutan, begitulah endingnya. So, pandai – pandailah dalam menerima setiap informasi yang ada.
  11. Cerita ke sebelas tentang perasaan suami saat chat seru dengan orang yang dikenal melalui situs daring, facebook. Bagaimana seharusnya menempatkan perasaan itu. bicara perasaan tentu tidaklah mudah.
  12. cerita ke duabelas tentang dampak Individualistis bagi banyak orang. Ego yang terlalu besar, dan tidak mau menerima pendapat orang lain, justru akan semakin merugikan baik dirinya maupun orang lain, bagaimana dirinya akan dianggap sebagai orang yang tidak bisa diajak bekerjasama. Kalo ini sifat yang masih saya punya banget. hehe

Itulah Pelajaran yang bisa saya dapatkan dari membaca buku ini. Sebuah buku yang disusun dari renungan. Sangat bagus dibaca untuk menambah khazanah kebijaksanaan. Ringan dan mudah diikuti.

 

Kos Kana 10, Yogyakarta. 11 April 2017
Lintang Fajar

Kesatria – De brief voor de koning

  • Judul buku : Kesatria – De brief voor de koningkoning
  • Penulis : Tonke Dragt
  • Tahun terbit : 2012
  • Penerbit : Pionirs books


Buku ini bersetting di Eropa dengan nama nama yang identik dengan kerajaan di jaman Abad Pertengahan. Bercerita tentang sebuah janji yang harus di tepati oleh seorang kesatria. Buku ini termasuk dalam kategori buku anak – anak. Pemeran utamanya adalah seorang anak berusia 16 tahun.

Awal dari cerita ini dimulai dengan sebuah adat tentang seorang anak sebelum di angkat menjadi kesatria. Seorang calon kesatria harus bertirakat semalam suntuk tanpa boleh keluar, sekalipun ada orang lain yang meminta tolong. Akan tetapi Tiuri melanggar perintah tersebut. “Demi Tuhan, Bukakan Pintu”, kata yang ia dengar dan membuat dia penasaran. Mulailah petualangannya mengantarkan sebuah surat ke negara tetangga, surat yang menentukan nasib sebuah negeri. Tidak ada cerita yang menarik tanpa drama. Petualangan bagaimana Tiuri bisa lolos sampai di negara bagian, bertemu dengan teman sejatinya, disangka sebagai pembunuh dan di kejar – kejar sampai hampit celaka, mendapat bala bantuan yang tidak dia sangka. Yang menarik adalah bagaimana dirinya sebisa mungkin meyakinkan dirinya bahwa orang yang disampingnya adalah kawannya.

Pelajaran yang saya dapatkan adalah :

  1. Sebuah janji, dan kepercayaan harus kita pegang kukuh, bagaimanapun keadaannya.
  2. Melanggar satu buah aturan mungkin akan membuat kita menggerutu, tetapi insting dan keyakinan melakukan hal yang benar akan membuat kita melampaui nilai dari aturan
  3.  Dalam sebuah proses pencarian, terutama pencarian jati diri, proses pencarian itulah yanh penting. Proses pencarian itulah yang membuag kita menemukan bukan penemuannya yang berarti
  4. Hal yang paling penting bukan apakah kabar yang dibawa itu membawa rasa senang atau sedih, tetapk keberhasilan menyampaikan sebuah pesan sesuai janji, dengan gagah berani, dan dengan pantang menyerah, walaupun bahaya menghadang.
  5. Setelah semua petualangan di lakukan, kita akan mampu berdiri di tempat sama tetapi dengan pandangan yang berbeda, pandangan yang lebih luas, lebih dalam dan jauh.

Nilai – nilai di dalam buku ini sangat bagus untuk di pelajari seorang anak. Tanpa teknologi yang membuat kita pusing, dengan membaca ini kita disuguhi pemandangan yang memutar imajinasi tentang keindahan alam abad pertengahan.
RE 2 FT, Yogyakarta. 5 April 2017

Lintang Fajar