Bauran Energi Primer Pembangkit Listrik 2017

Infografik terbaru disampaikan oleh kementrian ESDM melalui akun twiiter-nya @KementrianESDM mengenai bauran energi primer atau persebaran pembangkit listrik yang digunakan. Data yang disampaikan digambarkan dalam chart sebagai berikut.

Bauran Energi Primer Pembangkit Listrik 2017

Energi Primer Pembangkit Listrik Tahun 2017

  1. Batubara (PLTU) – 57,22%
  2. Gas (PLTG/PLTGU) – 24,82%
  3. Energi Terbarukan (PLTA, PLTB, PLTS, dll) – 12,15%
  4. Bahan Bakar Minyak – 5,81%

Saat ini batubara masih menjadi basis utama pembangkit listrik, jadi listrik-listrik yang kita pakai saat ini terutama di daerah Jawa disuplai oleh pembangkit batubara. Proyek-proyek pembangunan PLTU batubara juga masih dilakukan untuk mengejar target 35.000 MW. Namun berita baiknya kementrian ESDM terus mendorong pembangunan energi terbarukan, yang terbaru adalah perencanaan pembangkit listrik tenaga arus laut di Kupang, NTT.

Porsi BBM dalam Penggunaan Energi Primer Pembangkit Listrik

  • 2014 : 11,81%
  • 2015 : 8,58%
  • 2016 : 6.96%
  • 2017 : 5,81%
  • 2018 : 5.00% (target)

Porsi dari tahun ke tahun terus menurun, semoga kedepannya porsi dari batubara juga bisa diturunkan. Sehingga pembangkit listrik di Indonesia bisa lebih ramah lingkungan dan tidak bergantung pada energi fosil.

Konsumsi Listrik (Kwh/kapita)

Kwh/Kapita artinya jumlah listrik yang dikonsumsi oleh tiap penduduk Indonesia. Perhitungannya adalah total jumlah konsumsi listrik nasional dibagi jumlah penduduk Indonesia, tanpa melibatkan persebarannya. Kwh/Kapita adalah angka kasar untuk melihat penggunaan energi listrik suatu negara.

  • 2014 : 878 Kwh/Kapita
  • 2015 : 918 Kwh/Kapita
  • 2016 : 956 Kwh/Kapita
  • 2017 : 1.021 Kwh/Kapita
  • 2018 : 1.129 Kwh/Kapita (target)

Konsumsi listrik terus meningkat seiring peningkatan elektrifikasi/ akses listrik penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Konsumsi listrik yang meningkat juga mendorong pengembangan peralatan dan transportasi listrik, misal motor/ mobil listrik, kompor listrik, dll.

Susut jaringan (%)

Susut (losses) menurut SK Menkeu Nomor : 431/KMK.06/2002, didefinisikan โ€œSusut (losses) adalah sejumlah energi yang hilang dalam proses pengaliran energi listrik mulai dari Gardu Induk sampai dengan konsumen. Apabila tidak terdapat gardu induk, susut (losses) dimulai dari gardu distribusi sampai dengan konsumenโ€. Bila disederhanakan susut jaringan berarti hilangnya energi listrik dalam proses penyaluran dari gardu induk sampai ke konsumen. Keadaan ini bisa terjadi oleh berbagai sebab, salah satunya pencurian listrik. Untuk mencegah situasi seperti itu upaya yang telah dilakukan kementrian ESDM diantaranya; a) peningkatan pengawasan untuk mencegah pencurian listrik, b) modernisasi sistem penyaluran dan metering.
  • 2014 : 10,58%
  • 2015 : 10,66%
  • 2016 : 10,34%
  • 2017 : 9,60%
  • 2018 : 9,60% (target)

Sepertinya susut jaringan ini masih menjadi pekerjaan rumah yang keras bagi PLN. Semoga kedepannya pembangkit listrik, konsumsi listrik, efektivas distribusi listrik, kejujuran penggunaan, porsi energi terbarukan dapat berkembang lebih baik lagi.

Semangat membangun !!!

Sumber: @KementrianESDM, teranginegeriku.blogspot.co.id, okezone


Yogyakarta, 8 April 2018

Si 74maludin

Advertisements

Inspirasi Kapabilitas Ganjar Pranowo

Kemarin malam, di TVRI ada siaran “Kupas Kandidat” calon gubernur Jawa Tengah pukul 20.00-an WIB. Iseng saya tonton bersama teman, karena kami sesama penduduk Jawa Tengah, tepatnya ber-KTP Kebumen, ๐Ÿ˜Š (Ada yang mau main ke Kebumen?). Sebenarnya saya bukan penggemar politik, namun saya tertarik dengan cara Pak Ganjar menjelaskan. Waktu itu yang pertama kali saya melihat tayangannya pas di pertanyaaan mengenai kemiskinan. Jangan tanya apa saja yang ditanyakan, saya tidak sehafal itu kawan. Inspirasi yang saya dapatkan dari menonton “Kupas Kandidat” calon gubernur ini lebih ke arah fakta keadaan masyarakat serta usaha Pak Ganjar dalam mengatasinya.

1. Kemiskinan

Kemiskinan menjadi salah satu masalah serius di Jawa Tengah, angkanya tidak main-main menyumbang lebih dari 10% dari total penduduk Jateng. Di Kebumen saja saya pernah membaca pada tahun 2013 kemiskinan menyentuh angka 20%, pembaruan data 2017 turun menjadi 12-an% mendapat peringkat ke-2 tertinggi di Jateng. Aku yang baru mengetahuinya langsung berpikir “Hmm. Besar juga ya angkanya, kayaknya keluargaku juga termasuk deh ๐Ÿ˜‚.”

2. Sumber Daya Manusia

Data kualitas SDM di Jateng juga tidak begitu menggembirakan. Entah berapa angkanya, namun dari penuturan Pak Gubernur dapat saya kesankan kalau SDM di Jateng masih cukup terbelakang. Ada satu scene yang saya ingat, Pak Gubernur bercerita “Saya pernah tanya ke bapak-bapak di Desa, ‘bapak lulusan apa?’ dijawab ‘saya lulusan SD pak’, ‘punya keterampilan gak’, ‘tidak punya pak'” Selebihnya saya lupa.

Di Jawa Tengah penduduk miskin (masih terikat masalah poin 1) dapat dibedakan menjadi 3; a) punya keterampilan tidak punya modal, b) punya modal tapi tidak punya keterampilan, c) tidak punya modal dan tidak punya keterampilan. Oleh karena itu di desa-desa diberikan pendampingan-pendampingan untuk mengatasi permasalahan itu.

3. Korupsi

Nah cerita yang menarik disini yaitu ketika Pak Gubernur ditanya panelis “Bagaimana mengatasi koruptor di pemerintahan?” lalu Pak Gubernur menjawab, “Gampang kok Pak. Orang korupsinya masih konvensional, minta jabatan, minta komisi ini itu …” Aku yang dengar hanya bisa tertawa ๐Ÿ˜‚. Apakah ini bukti bahwa SDM Jateng memang benar-benar rendah ?

Yang perlu dicontoh dari usaha Pak Gubernur mencegah korupsi:

  • Ketika ada pejabat baru dilantik tidak lama setelahnya disekolahkan ke KPK.
  • Selama menjabat diberi pendampingan dari tim KPK.
  • Jika tetap kena OTT, berarti pejabat itu ndableg ๐Ÿคฃ.

4. Sektor Pekerjaan

Jateng masih mengandalkan sektor Pertanian (termasuk juga perkebunan, pertambakan, dan peternakan) yang mencakup penyerapan 20% pekerjaan disusul dengan sektor industri pengolahan sekitar 12%. Alamak besar beud orang yang kerja di pertanian. Pertanyaan untuk diriku sendiri ? Apa yang bisa aku lakukan dengan data ini ?

5. Kematian Ibu Hamil Melahirkan

Slogannya keren oy “Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng“. Wkwkwk

Yang lainnya ada beberapa sih, tapi lima itu yang menjadi ketertarikan terbesarku. Toh postingan ini bukan mau membahas data-data itu. Akan tetapi yang menyebabkanku manthengin (memandang terus) acara ini sampai selesai tidak lain adalah Cara Menjelaskannya. Seperti melihat seorang aktivis yang ahli debat dengan data-data yang akurat, benar-benar berasa faktual. Semua pertanyaan dijawab dengan benar-benar meyakinkan. Pengen sekali punya kepercayaan diri seperti beliau dah ๐Ÿคค๐Ÿคค๐Ÿคค. Kayaknya bakalan nge-fans dah aku sama beliau ๐Ÿคฃ.

Poin terakhir yang saya garis bawahi adalah perkembangan ekonomi secara keseluruhan di Jawa Tengah masih jauh tertinggal. Saya pikir inilah alasan utama mengapa tidak ada sesuatu Wow seperti pemberitaan di daerah lain. Sebagai salah satu harapan ๐Ÿ˜Ž Jawa Tengah saya merasa harus melakukan sesuatu untuk mereka.

Terima kasih Pak Ganjar sudah membuat Jawa Tengah bisa maju sedemikian rupa. Semoga bapak bisa menuntaskan usaha bapak lima tahun lagi.

Untuk yang penasaran ini ada sedikit cuplikan acara kemarin malam yang dipublikasikan channel Rekaman Berita di Youtube.

Selamat Bekerja, Selamat Menginspirasi !!!

Sumber: siaran Kupas Kandidat TVRI, Kompas


Yogyakarta, 7 April 2018

Lintang Fajar

 

Catatan Kuliah Kurikulum: Debat untuk Memperluas Sudut Pandang Peserta Didik

Ada satu strategi untuk mengajarkan kepada peserta didik agar mereka memiliki pandangan yang lebih luas. Strategi ini saya dapatkan ketika mengikuti perkuliahan Pengembangan Kurikulum 6/4/18 oleh Bapak Soeharto. Beliau berbagi cerita semasa belajar di Amerika Serikat jenjang pascasarjana tentang bagaimana suasana perkuliahan di Amerika sana. Kalau saya tidak salah dengar beliau pernah di ajar oleh Bruner (apakah itu psikolog ternama Jerome Bruner ya ? Kagak tahu, dan tidak saya tanyakan ๐Ÿ˜”). Berikut strategi pak dosen Bruner itu, ceritanya:

Setiap kelas pak dosen Bruner akan dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama dosen memberikan sebuah kasus, misalnya Ujian Nasional apakah perlu ? lalu menanyakan kepada mahasiswa;

  • โ€œSiapa yang setuju terhadap dengan agenda tersebut ?โ€ Beberapa mahasiswa mengacungkan jari.
  • โ€œSiapa yang tidak setuju dengan agenda tersebut?โ€ Beberapa mahasiswa mengacungkan tangan jari.
  • Sisanya adalah orang yang tidak mengacungkan jarinya.

Dari dua kelompok yang mengacungkan jari diplotkan kembali menjadi tiga kelompok;

  1. Kelompok Pro.

    Kelompok ini berisi mahasiswa yang setuju bahwa Ujian Nasional perlu diadakan. Diletakkan di sisi kiri atau kanan saling berhadapan dengan kelompok kontra.

  2. Kelompok Kontra.

    Kelompok ini berisi mahasiswa yang tidak setuju bahwa Ujian Nasional perlu diadakan. Diletakkan di sisi kiri atau kanan saling berhadapan dengan kelompok pro.

  3. Pengamat.

    Sisa mahasiswa yang tidak memilih menjadi kelompok ini. Tugasnya adalah menjadi moderator, notulensi, dan menarik kesimpulan. Tugas pelengkap dalam sebuah debat.

sketsa mengajar debat
sketsa posisi kelompok. maaf berantakan ๐Ÿ™(buatan sendiri)

Sesi pertama dimulai dengan pengaturan seperti diatas. Dilanjutkan dengan sesi berikutnya kelompok pro dan kontra ditukar. Setelah sesi kedua, jika masih ada waktu bisa dirotasi kelompoknya.

Tujuan utama dari strategi mengajar seperti ini adalah peserta didik mampu melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang sehingga ketika di masyarakat mereka mampu melihat keadaan dari berbagai maca perspektif kehidupan.

Satu strategi mengajar menarik telah aku arsipkan. Menunggu di praktikkan. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š.


Yogyakarta, 7 April 2018

Lintang Fajar

Empat Macam Landasan Filosofi Pendidikan dalam Musyawarah

“Dalam setiap rapat atau musyawarah guru akan selalu seru. Ini terjadi karena masing-masing guru menggunakan dasar filosofinya masing-masing.” tutur dosen kurikulum saya.Macam landasan filosofis pendidik dapat dilihat menjadi empat macam, sebagai berikut;

  • Perenilisme

Golongan ini adalah golongan “perindu masa lalu”. Orang-orang yang berfilosofi ini adalah orang-orang yang biasanya telah berhasil di masa lalu sehingga sering menggunakan cara yang sama ketika dia berhasil dulu.

Contoh: guru yang memilih mengajarkan Microsoft XP karena dirinya ahli di software itu.

  • Esensialisme

Golongan ini adalah golongan orang yang berpikir “cukup mengajarkan yang inti saja” yaitu mengajarkan yang diperlukan saat ini.

Contoh: sekarang mayoritas komputer menggunakan Windows 7 maka yang diajarkan adalah operasi menggunakan Windows 7.

  • Rekonstruksivisme

Golongan ini adalah golongan pemikir masa depan, apa yang akan terjadi di masa depan itu yang perlu diajarkan.

Contoh: Memilih Windows 10 dengan update terbaru karena itu yang akan booming.

  • Progresivisme

Golongan ini adalah golongan yang menggabungkan esensialisme dan rekonstruksivisme. Tetap perlu untuk mengajarkan dasar-dasar keilmuan tetapi juga memberikan pengetahuan tentang apa yang nantinya akan berkembang.

Contoh: mempelajari sejarah Windows sampai generasi terbaru, tetapi diunggulkan yang sekarang.

Untuk mencapai pendidikan yang terbaik diperlukan kombinasi dari empat cara pandang tersebut. Dalam setiap musyawarah guru harus dipikirkan tentang kesemuanya danย  menentukan metode serta materi terbaik yang perlu dilakukan. Pada setiap mata pelajaran berbeda pula cara pendekatannya, misalnya untuk mapel sosial maka pendekatan rekonstruksivis itu lebih diutamakan karena keilmuannya akan terus berkembang. Sedangkan untuk mata pelajaran sains dasar perenialisme mungkin pendekatan yang baik, tetapi tinggal metode mengajarkan yang disesuaikan dengan kondisi siswa sekarang. Kuncinya adalah musyawarah dengan memandang semua filosofis dalam menentukan materi ajar peserta didik.

Catatan kuliah ini saya tuliskan berdasarkan ingatan materi kuliah Pengembangan Kurikulum. Kebetulan catatan itu hilang dan ini sisanya ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ.


Yogyakarta, 6 April 2018

Lintang Fajar

 

 

Khotbah Jumat 6/4/18: Keutamaan Shalat

Dalam islam salat memiliki tempat tersendiri, sering dikatakan bahwa salat merupakan tiangnya agama. Tiang berarti penyangga yang menjadikan agama itu ada. Aku sudah salah mengira bahwa salat itu ibadah yang biasa-biasa saja. Mohon maaf, aku tidak berbicara keutamaan dari segi banyaknya pahala karena aku tidak terlalu ngeh dengan pahala. Pahala itu urusan Tuhan bukan ? manusia hanya bisa melakukan yang amalan yang terbaik, apakah amalan itu diterima, diridhai, direstui itu semua adalah hak prerogatif Tuhan.

Keutamaan yang dimaksudkan adalah dari macam ibadahnya. Jika dibandingkan dengan rukun ibadah yang lain, misalnya zakat salat tetap lebih utama. Zakat hanya memiliki beberapa macam, seperti zakat fitrah, zakat maal. Zakat maal ada sekitar enam macam diantaranya, ziro’ah, mada’in, dll. Kalau puasa hanya ada puasa ramadhan, puasa senin kamis, dll. Nah kalau salat itu ada banyak sekali, contohnya Salat maghrib, salat ashar, salat jenazah, salat ghaib, salat mutlak, salat gerhana,ย  salat id, dll. Ada begitu banyak salat dan umat muslim hanya diwajibkan menjalankan lima saja. Bukankah itu berarti ada keistimewaan disitu. Ini seperti seorang guru yang tahu ada puluhan jenis contoh aplikasi dan siswa hanya diminta menuliskan lima contoh apikasi saja. Jika itu saja masih keberatan teramat disayangkan. Inilah sudut pandang pandang keistimewaan salat dari ragam ibadahnya.

Jika diibaratkan nilai, salat itu seperti standar penilaian atau Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Amalan lain akan dinilai setelah amalan salat ini lulus. Apakah kita termasuk pribadi yang peduli dengan nilai ?

Referensi : http://pengertianzakatmu.blogspot.co.id


Yogyakarta, 6 April 2018

Lintang Fajar