Apa kau Matahariku ?

Meminjam istilah pencarian hati Mitsuki (tokoh dalam Boruto – Naruto Next Generation). Agar manusia bisa utuh, dibutuhkan keseimbangan akal dan hati. Hati seorang manusia butuh di isi, entah di isi oleh nilai – nilai kemanusiaan atau oleh perasaan yang tidak bisa di hadirkan oleh diri sendiri. 

Sudah 1400 tahun, Engkau Ya Rasullullah meninggalkan umatmu. Dari tahun ke tahun umatmu semakin bertambah. Apakah itu juga berkorelasi dengan kadar keimanan ? Hanya Tuhan yang tahu. Jika saat ini Engkau ada, tentu aku bisa berkeluh kesah kepadamu secara langsung dan mendapatkan jawaban secara pasti. Sayangnya aku di lahirkan 1400 tahun setelah engkau tiada. Ada berbagai versi penafsiran dari ajaran yang Engkau berikan.

Hanya Tuhan yang tahu kebenaran sesungguhnya. Memohon kepada Tuhan tentang kebenaran dunia ini musti dilakukan. Hanya saja, membedakan bisikan syetan dan bisikan-Mu ya Rabb, sangat sulit. Apalagi teruntuk aku yang banyak dosa. Memiliki seseorang yang bisa menjaga hati ini agar terjaga dalam koridor-Mu itu sangat penting.

Memiliki pasangan yang mengerti akan Ma’rifat kepada-Mu adalah anugerah terindah dari-Mu. Setelah Engkau mengambil adikku ke hadirat-Mu, aku belum menemukan partnert terbaik untuk beribadah kepada-Mu. Bilakah sosok itu datang ? Akankah Engkau hadirkan dirinya untukku ?

Kepada siapa kah hatiku bersanding dalam cinta kepada-Mu ya Rabb ?

Akankah ia menjadi matahariku ? 

Dalam kegalauan pencarian cinta

Kos kana 10, Yogyakarta.

5 Mei 2017

Sederhana;

Aku tidak bisa berjanji bahwa aku akan menjadi seorang Professor atau ilmuwan maupun pemimpin perusahaan level dunia. Aku hanya bisa berjanji untuk berubah dan menjadi pribadi yang great. Maaf jika selama ini aku masih menyusahkanmu ibu. Aku berjanji akan membuatmu bangga suatu hari nanti. Kebanggaan yang sederhana. Bukan kebanggaan mewah atas harta atau kekuasaan yang besar, tapi kebanggaan yang sederhana. 

I promise, 
Yogyakarta, dalam kesunyian

Tulisan Absurd Sabtu – Dini hari

Aku rasa memiliki seseorang yang kita sayangi itu bisa memberi kita kekuatan ekstra, terutama untuk memberi semangat di setiap detiknya. Namun tidak semua orang seperti itu, ada orang yang justru tertanggu kalau dirinya diusik setiap setiap saat. Aku menjadi bagian kelompok itu. Ketika aku sudah fokus dan nyaman pada suatu hal yang aku sukai, aku punya kecenderungan untuk mengabaikan yang lain. Sayangnya, selama ini justru aku dituntut menjadi siswa yang rajin, penuh dengan schedule dan metode nyicil dalam mengerjakan tugas, Ah, itu sesuatu yang kurang aku sukai. Aku tidak bisa menyalahkan sistem. Aku hanya keberatan dengan teori “kerja keras” yang berarti harus “rajin” everytime. Bagiku setiap orang punya style kerja masing – masing, hanya karena seseorang tidak melakukan apa – apa apakah ia berarti pemalas ? 

Pikiran, suatu hal yang memusingkan. Tidak bisa didefinisikan dengan jelas. Tidak nampak, tapi berjaya. Pengendali seluruh operasi tindakan manusia. Aku sering heran dengan pikiranku sendiri. Mengapa aku berpikir seperti itu ? Mengapa aku kesulitan untuk menerima sistem yang ada ? Mengapa aku selalu berpikir “ini bisa diperbaiki”, ” ini bisa diubah menjadi lebih baik”. Mengapa aku kesulitan untuk “sudahlah kamu hanya perlu menuruti perintah saja.” Mengapa pikiranku selalu berteriak “apa artinya ini untukmu Jam ?” 

Aku bergantung pada rencana. Setiap satu rencanaku bermasalah aku punya kecenderungan menghancurkan rencanaku yang lain. Dan saat gagal, badmood ku kumat. Everytime aku harus menata rencana, antisipasi, modifikasi sekaligus menarik kesimpulan “what is the meaning” . Benar – benar menyebalkan pikiranku ini. 

Wahai Otak, tak bisakag kau berpikir normal seperti anak biasa saja. Seperti anak – anak yang baik, yang cukup menerima semuanya dengan mudah ? Kau membuatku menderita…

Godaan terbesar untukku adalah melihat rasa kemanusiaan yang ditunjukkan oleh seseorang. Misal ketulusan seorang ibu pada anaknya, orang tua yang rela berkorban untuk masa depan anak – anaknya termasuk pula seorang remaja yang belajar begitu keras demi merubah nasib keluarganya. Atau seorang perempuan dengan tingkah jenakanya memperlihatkan emosinya senyum- manyun -sebel -bertindak absurd. Kau tahu kenapa ? Karena itu kelemahanku. Aku hanya punya secuil empati dan simpati pada orang lain. 

Kemanakah takdir membawaku ?

Kos Kana 10, Yogyakarta. 22 April 2017

Lintang Fajar

Selama empat Tahun

Empat tahun waktu yang lama, hanya bertempur dengan perasaanku. Bertempur dengan keragu – raguan. Mengamati dan memahami “apa yang sebenarnya aku inginkan ?” apa yang aku cari. 

Mendung yang meneduhiku. Teruntuk orang keras kepala yang sulit menerima pendapat orang lain, aku berjibaku dalam mengerti sudut pandangku. Aku ingin menangis.

Akankah empat tahun ini menjadi sia – sia ? Aku masih ragu untuk melangkah. Aku masih takut. Franklin D. Roosevelt mengatakan “satu – satunya yang perlu di takutkan adalah rasa takut itu sendiri.” Rasa takut karena pikiran kita yang menciptakannya. Akan tetapi, aku tidak bisa seperti ini terus. 
Aku tidak takut untuk bekerja keras. Aku hanya takut kalau yang aku lakukan itu tidak sesuai dengan hati ini. Aku memang lemah. Hari ini, aku ingin berubah. Aku janji. Ambisiku “memahami Tuhan dan alam semesta” dengan memahami puncak keinginan manusia. 

Karena cita – citaku masih sama : menjadi CEO global company.

Sudut Museum Pendidikan Indonesia, Yogyakarta. 20 April 2017
Lintang Fajar

Buku menyebalkan


Aku sudah membeli buku ini lamaa sekali. Ada satu bulan yang lalu, tetapi belum habis aku baca. Setiap membaca pengantar /pendahuluan nya saja sudah membuatku ingin membanting buku ini. Benar – benar buku yang menyebalkan (sebal dalam arti positif).

Ya, buku ini mengajak mahasiswa untuk berani ber-solo traveling. Memotivasi. Itulah masalahanya, buku ini terlalu memotivasi diriku bahwa kita bisa pergi ke luar negeri jika punya  niat dan tekad. Sebelnya adalah aku belum tahu apa arti traveling buat aku sendiri, aku baru melihat itu sesuatu yang Wow. Tapi sejujurnya, aku tidak terlalu tertarik dengan travel – travel begitu. Jika di situ tidak ada sesuatu yang ingin aku pelajari. Jika bukan karena proses pencarian dan pembelajaran, aku malas traveling, buatku membaca ceritanya saja sudah cukup.

Benar – benar menyebalkan satu buku ini. Membuatku ingin merajut asa yang lama tertimbun dalam ketakutan. Hahaha. Aku merasa untuk bisa menjadi student traveler harus menjadi mahasiswa yang baik, rajin, dan berprestasi. Aku tidak memenuhi kualifikasi itu. Aku termasuk kategori mahasiswa pemalas. Harus mengetahui apa pengaruhnya untukku sebelum melakukannya. Aku harus belajar dengan baik dan benar. Tapi untuk saat ini, aku akan memulai dengan belajar yang baik dan benar. Baik dan benar menurutku adalah mengetahui konsep dasarnya terlebih dahulu. It’s a hard task.



Perpus FT UNY, Yogyakarta. 19 April 2017

Lintang Fajar

Sisi Introvert 2 : Sosial

Aku tidak membenci sosial. Tidak. Aku menyenanginya. Hanya saja, aku tidak cukup mampu untuk terus berada bersama – sama denganmu kawan. Aku membutuhkan privasi untukku menyelami labirin pikiranku sendiri. Aku mengenakan batas diantara kita, semata – mata untuk menjaga hati dan pikiranku. Sampai engkau memang menjadi pribadi yang nyaman untukku. Sampai aku bisa memanggilmu sobat.

Ketenangan dan kesunyian adalah bagian dari caraku menemukan ide dan mengenali diriku. Walaupun aku tidak menyangkal bahwa kesendirian memberikan rangsangan untuk bermaksiat lebih besar. Sungguh akupun takut dosa ini semakin menumpuk, tetapi disitulah kehidupanku. Aku menghargai hidupku.

Empat orang adalah batas untukku bisa berbaur dalam sebuah percakapan. Selebihnya, mohon maaf jika aku hanya akan mendengarkan dan menimpali sesekali, hanya saat hal itu menarik. Aku tidak begitu memahami arti sombong, tetapi ijinkanlah aku menjadi diriku sendiri. Kawan !!!

Kos Kana 10, Yogyakarta. 19 April 2017

Lintang Fajar

Sisi Introvert 1 : Mandiri

Menggantungkan diri pada orang lain ataupun saling membantu dalam setiap kesempatan memanglah sesuatu yang baik. Sekaligus memberikan tekanan dalam hidupku. Selama ini aku selalu mencoba untuk tidak bergerak sendiri. Seperti adat dan budaya di masyarakat timur yang menonjolkan kebersamaan, aku mencoba untuk selalu dalam koridor itu. 

Akhir – akhir ini pandangan itu telah terusik. Aku pikir aku telah salah memahami arti dari bekerja sama. Susan Cain dalam the power of introvet Tedx, berkata bahwa introvert memiliki cara pandang sendiri dalam menilai masyarakatnya, tidak harus selalu berdiskusi dan bersama – sama a long day. Aku selalu takut untuk melakukan sesuatu yang berbeda, walaupun jauh di dalam lubuk hatiku aku membencinya. Aku membenci menyerahkan kendali hidupku di tangan orang lain. Darah kemandirian terus menerus menyala di dalam diriku. 

Ya, aku takut. Aku takut kalau ide ku itu akan gagal. Aku takut kalau akhirnya aku hanya akan ditertawakan. Aku takut salah. Akan tetapi, aku tidak bisa terus menerus seperti ini, menggunakan “topeng” kepribadian lain.

Wahai Tuhan, tunjukkan secercah harapan arti kehidupan dunia ini.

Kos Kana 10, Yogyakarta. 19 April 2017

Lintang Fajar