Buku : Keterampilan Berpikir

Judul : Keterampilan Berpikir

Penulis : Dr. H. Adun Rusyna Drs., M.Pd

Tahun Terbit ; 2014

Penerbit : Penerbit Ombak, Yogyakarta

Awalnya saya tertarik dengan judul dan sub judulnya “Pedoman dan acuan para peneliti keterampilan berpikir”. Saya berharap akan mendapatkan buku teoretis yang bisa menjadi landasan berpikir. Kenyataan nya buku ini memadukan keduanya. Ada teori – teori praktis dan disertai contoh – contoh menjadikan buku ini cukup ringan. Ada juga saran – saran yang harus dilakukan untuk memaksimalkan kemampuan berpikir siswa oleh para guru.

Jujur saja, saya lebih banyak bingung saat membaca buku ini daripada asyiknya. Sistematika penulisannya kurang runtut, banyak pembahasan yang meloncat dari satu narasi ke narasi lain, misalnya pada pembahasan tokoh yang berjasa di bidang sains lalu tiba tiba meloncat ke konsep pembakaran. Tata bahasanya seperti tanpa jeda, seolah minum terus – menerus tanpa jeda, sehingga gelagapan dalam mencernanya. Aku agak kurang percaya buku ini ditulis oleh seorang doktor. Hehe. Yah, ini memang buku umum sih bukan jurnal, tapi akan lebih jika bahasanya lebih runtut.
Hal yang aku sukai dari buku ini adalah adanya instrumen untuk mengecek kecenderungan berpikir kreatif atau kritis. Hasilnya…. Aku jauh lebih cenderung kreatif dibanding kritis. Agak mengecewakan memang, padahal untuk akademisi seharusnya lebih kuat kritisnya. Terima lah hasilnya apa adanya…

Pekerjaan selanjutnya untukku adalah belajar berpikir kritis. Jadi teringat untuk membaca buku itu “Pengantar berpikir kritis” dari orang luar, dulu belum sempat habis tuh. 

Berpikir kritis – oh berpikir kritis. Oh, I am coming. Terima kasih Pak Adun.

Advertisements

Buku menyebalkan


Aku sudah membeli buku ini lamaa sekali. Ada satu bulan yang lalu, tetapi belum habis aku baca. Setiap membaca pengantar /pendahuluan nya saja sudah membuatku ingin membanting buku ini. Benar – benar buku yang menyebalkan (sebal dalam arti positif).

Ya, buku ini mengajak mahasiswa untuk berani ber-solo traveling. Memotivasi. Itulah masalahanya, buku ini terlalu memotivasi diriku bahwa kita bisa pergi ke luar negeri jika punya  niat dan tekad. Sebelnya adalah aku belum tahu apa arti traveling buat aku sendiri, aku baru melihat itu sesuatu yang Wow. Tapi sejujurnya, aku tidak terlalu tertarik dengan travel – travel begitu. Jika di situ tidak ada sesuatu yang ingin aku pelajari. Jika bukan karena proses pencarian dan pembelajaran, aku malas traveling, buatku membaca ceritanya saja sudah cukup.

Benar – benar menyebalkan satu buku ini. Membuatku ingin merajut asa yang lama tertimbun dalam ketakutan. Hahaha. Aku merasa untuk bisa menjadi student traveler harus menjadi mahasiswa yang baik, rajin, dan berprestasi. Aku tidak memenuhi kualifikasi itu. Aku termasuk kategori mahasiswa pemalas. Harus mengetahui apa pengaruhnya untukku sebelum melakukannya. Aku harus belajar dengan baik dan benar. Tapi untuk saat ini, aku akan memulai dengan belajar yang baik dan benar. Baik dan benar menurutku adalah mengetahui konsep dasarnya terlebih dahulu. It’s a hard task.



Perpus FT UNY, Yogyakarta. 19 April 2017

Lintang Fajar

Book : Rindu

Judul : Rindu
Penulis : Tere Liye
Tahun terbit : 2014
Penerbit : Republika, Jakarta

Exif_JPEG_420

Tak kusangka satu buah novel ini akan mengusik perasaanku. Sudah lama sejak kali terakhir aku berurusan dengan novel Indonesia. Mungkin sudah sekitar 1 – 2 tahun yang lalu aku membaca novel tebal – novel dengan jumlah halaman lebih dari 500.
Sebuah novel yang memukau untukku. Aku memang sangat suka novel yang bercerita tentang drama, terutama drama tentang perasaan pribadi, seolah – olah jalan ceritanya mengajak kita untuk intropeksi diri, untuk terus mempertanyakan tentang hal yang sebelumnya belum terlintas dalam pikiran kita.
Sekalipun novel ini berjudul “Rindu” tetapi tidak ada sosok rindu di dalamnya. Judul ini lebih kepada judul yang implisit dari sebuah perjalanan panjang. Kerinduan akan jawaban dari sebuah pertanyaan yang telah lama tersimpan. Bahkan untuk orang yang selalu memiliki jawaban untuk orang lain, tetapi ia justru tidak memiliki jawaban untuk dirinya sendiri. Kerinduan akan perasaan yang sejati, perasaan akan penerimaan yang luas. Sangat cocok untukku yang sedang menggalau, sedang mencari jawaban atas pertanyaan mendasar. Seperti yang sudah saya ceritakan dalam blog ku sebelumnya.
Cerita dalam novel ini adalah tentang pencarian jawaban dari lima tokoh utama: Daeng Andipati, Ahmad Karaeng, Ambo Uleng, Mbah Kakung dan Bonda Upe. Kelima tokoh itu bertemu dalam perjalanan Suci, menunaikan ibadah haji dengan kapal uap BLITAR HOLLAND di tahun 1938. Kapal Blitar Holland awalnya merupakan kapal kargo milik koninklijks Rotterdam yang kemudian di modifikasi menjadi kapal penumpang, dan ternyata itu lebih menguntungkan, salah satunya di gunakan untuk mengangkut jamaah haji. Kapal ini mengangkut jamaah haji dari berbagai wilayah di Indonesia, pertama dari Makassar, Surabaya, Semarang, Batavia (Jakarta), Lampung, Bengkulu, Padang, dan Banda Aceh dan transit di Kolombo (Sri langka). Perjalanan yang tidak mudah, terutama dari segi batin.
⦁ BONDA UPE
Pertanyaan pertama datang dari Bunda Upe. Bunda Upe adalah orang cina yang beragama islam. Sering memakai pakaian cina cheongsam. Bunda Upe juga orang yang suka sekali mengajar. Ia mengajar mengajar anak – anak membaca Al quran dalam Masjid Kapal. Masa lalu yang kelam di Batavia membawa dia dan suaminya – Enlai pergi ke Palu untuk belajar mengaji. Di Batavia dulunya dirinya adalah seorang cabo (Pelacur), tetapi dirinya menjadi cabo bukan karena keinginan dari dirinya melainkan karena keterpaksaan. Ia menjadi korban taruhan perjudian ayahnya. Setelah selama 15 tahun menjadi cabo level teratas di Batavia, ia pun tidak tahan dan ingin insyaf, kebetulan bertemu dengan teman masa kecilnya yang menjadi suaminya itu. Mereka memutuskan untuk pergi dari sana dan memulai kehidupan yang baru.

Pertanyaan yang diajukan adalah “Apakah Allah masih mau menerima orang penuh dosa seperti dirinya ? Apakah pantas untuk seseorang yang di dalam dirinya masih belum bisa menerima masa lalu untuk menunaikan ibadah suci ini ? ”

⦁ DAENG ANDIPATI
Daeng Andipati adalah salah satu saudagar kaya dari Makassar. Ia juga sempat belajar di Rotterdam, Belanda. Hal yang paling mengesankan dari dirinya adalah ia membiayai belajarnya secara mandiri dengan bekerja keras di Belanda, tidak meminta satu gulden pun kepada orang tuanya. —Sesuatu yang belum bisa aku lakukan, pengen sih, tapi belum bisa—. Ia juga memiliki seorang istri yang cantik dan dua orang anak perempuan yang lucu Elsa dan Anna yang menghiasi cerita novel ini dengan tingkah kekanakannya. Walaupun dari luar ia begitu sempurna, namun di dalam hatinya ia masih memiliki masalah. Ia memendam kebencian yang begitu kuat kepada Ayahnya. Ayah yang penuh dusta, dari luar terlihat sangat baik tetapi perilakunya amat buruk di keluarganya, menggunakan kekerasaan untuk hal yang sepele adalah hal yang biasa di lakukan untuk anggota keluarganya, istilah sekarang KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga).

Pertanyaan yang diajukan adalah “Apakah pantas orang seperti dirinya yang masih menyimpan rasa dendam, pergi menunaikan ibadah haji yang suci ?”

⦁ MBAH KAKUNG
Usia 80-an tahun, asal Semarang. Tokoh yang satu ini, memang kurang spesial, tetapi cinta sejatinya begitu memukau. Quote yang aku sukai

“Pendengaranku memang sudah tidak bagus lagi, Nak. Juga mataku, sudah rabun. Tubuh tua ini juga sudah bungkuk. Harus kuakui itu. Tapi aku masih ingat kapan aku bertemu istriku. Kapan aku melamarnya. Kapan kami menikah. Tanggal lahir semua anak – anak kami. Waktu – waktu indah milik kami. Aku ingat itu semua.”

Bahkan mereka melahirkan bayi mereka tanpa pertolongan bidan, cerita yang Waw. Namun naas, saat semua terasa sempurna, bahkan dengan usaha terakhir untuk menunaikan ibadah haji bersama, Tuhan berkata lain. Tuhan mengambil kembali jiwa Istri dari Mbah Kakung berpulang, sewaktu dalam perjalanan rute Banda Aceh – Kolombo. Jasad istrinya di makamkan ala pelaut, yaitu di makamkan di laut lepas, Samudra Hindia.
Pertanyaannya sederhana “Mengapa sekarang ? Mengapa Allah menyabut nyawa istrinya sekarang ? Sebelum mereka sempat haji bersama – sama ?”

⦁ AHMAD KARAENG (GURUTTA)
Ulama masyhur dari Makassar, yang ceramahnya saja bisa membuat Belanda ketakutan. Penuh dengan petuah – petuah yang bijak. Pernah belajar hingga ke Aceh, dan Yaman.
Pertanyaan yang menggelisahkannya adalah “Apakah aku pantas, orang yang mampu menulis tentang kemerdekaan tapi tidak berani melakukan hal itu secara nyata?”

⦁ AMBO ULENG
Ini adalah tokoh favoritku. Seseorang yang ikut jamaah haji, dan bekerja di kapal uap hanya untuk pergi dari perasaan yang menyemuti hatinya. Kisah di dalamnya sangat keren. Bagaimana dirinya bisa menggerakkan kapal uap dengan layar saat mesin kapal laut. dan puncaknya melumpuhkan perompak somalia dengan strateginya yang jitu.
Pertanyaan dirinya “Apakah yang harus aku lakukan untuk mengatasi perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan ini ?

“Nasib kadang bisa ditentukan oleh sesuatu yang tipis sekali. Bahkan bisa setipis kertas yang terjatuh di kantin kapal.”

“Tidak Masalah, Nak. Mata Air yang dangkal, tetap saja bermanfaat jika jernih dan tulus. Tetap segar airnya.”

“Tidak Selalu orang lari dari sesuatu karena ketakutan atau ancaman. Kita juga bisa pergi karena kebencian, kesedihan, ataupun karena harapan”
“Jika kau ingin menulis satu paragraf yang baik kau harus membaca satu buku. Maka jika di dalam tulisan itu ada beratus ratus paragraf, sebanyak itulah buku yang harus kau baca.”

Kesimpulan :
Kita tidak akan maju jika kita tidak menerima masa lalu kita apa adanya. Jika kita terus terjebak dalam kenangan yang memabukkan, akan sampai kapankah hal itu ? Memikirkan masa lalu, dan tidak belajar darinya hanya akan membebani diri sendiri. Membebani perasaan diri sendiri. Menerima masa lalu, adalah awal dari segala penerimaan yang lebih besar. Maafkanlah masa lalu, dan bukalah lembaran baru.
Berpikirlah tidak hanya dari sudut pandang, syukuri apa saja yang telah terlewat. Hidup bukan hanya tentang memikirkan perasaan pribadi, tapi ada nilai – nilai yang jauh lebih besar yang hanya bisa diterima dengan mengikhlaskan keadaan kita saat ini.

Saat pulang dari perjalanan haji, Mbah Kakung meninggal tepat atas samudra hindia. Di makamkan disamping Mbah Putri, di dalam samudra. Kuasa Tuhan, siapa yang tahu ?

Dibutuhkan keberanian untuk tidak hanya berkata. Sehebat apapun seseorang tidak akan berguna jika tidak berani berbuat secara nyata. Keberanian yang nyata, dan tekad yang kuat akan mampu menggetarkan musuh yang jauh lebih besar sekalipun.

Tentu ada lebih banyak mutiara hikmah yang bisa dipetik, tetapi aku terlalu bingung untuk menuliskan hikmah apa saja yang bisa diambil dari novel ini. Ini hanya lah tulisan kecil dari seseorang yang masih mencari jawaban atas pertanyaan dasar kehidupannya di dunia. Ada banyak sekali pertanyaanku di dunia ini, tapi aku sekarang mulai melihat, bahwa pertanyaan – pertanyaan itu tidak akan terjawab jika aku tidak bertindak nyata. Aku percaya, jawaban yang aku cari sudah ada, aku hanya perlu menjemputnya.

 

Kos Kana 10, Yogyakarta. 12 April 2017
Lintang Fajar

Book : Wither

Judul : Wither (Bagaimana Jika Kau Mengetahui Kapan Kau Akan Mati ?)
Penulis : Lauren DeStefano
Penerbit : Kantera,
Tahun Terbit : 2011

Exif_JPEG_420

Jujur saja, ketika pertama kali membaca arti maksud dari Judul Wither bagaimana jika kau mengetahui kapan kau akan mati sungguh menggegerkan rasa penasaran hati ini. But sejauh yang aku baca dari bab pertama, belum terasa momen itu. Dan kata Wither pun tidak aku dapati artinya secara tekstual. Kenapa Wither ? Aku juga belum tahu.
Kisah dalam novel ini dimulai dari dunia masa di depan dimana orang hanya akan mampu bertahan pada rentan usia dua puluh (20) tahun untuk perempuan dan dua puluh lima (25) tahun untuk laki – laki. Ini terjadi setelah perang dunia ketiga dan kemajuan teknologi yang besar – besaran di abad ke – 21, dimana semua obat dan suplemen di ciptakan untuk membuat manusia mampu bertahan di rentang usia yang jauh lebih lama. Akan tetapi, manusia lupa bahwa kemajuan teknologi dalam pengobatan yang luar biasa membuat kelainan genetik, sehingga manusia hanya mampu bertahan dalam usia yang sangat singkat. sebuah antidot (zat penyembuh kelainan genetik) mencoba untuk di ciptakan, tetapi itu membutuhkan percobaan berupa bayi – bayi muda serta manusia – manusia lain yang masih sehat. Terciptalah dua golongan yaitu pro – naturalis yang menginginkan penghentian riset antidot dan pro – saintis yang mendukung riset penemuan antidot.
Rhine, seorang perempuan muda (16) korban dari penjualan manusia untuk di jadikan pengantin muda untuk anak orang – orang kaya. Cerita ini lebih mengisahkan tentang perjuangan Rhine untuk keluar dari keluarga kaya yang telah meminangnya. Walaupun di dalam rumahnya dirinya dia mendapatkan semuanya, tetapi jiwa mudanya yang menginginkan kebebasan ternyata tidak bisa di cegah. Serta rasa simpati dan rasa enggan melihat manusia hanya dijadikan bahan eksperimen tanpa dibiarkan untuk hidup dan mati dengan sewajarnya. Rhine yang harus berpura – pura setia dan penuh pengertian dalam melayani suaminya, sesungguhnya hanyalah siasatnya untuk bisa kabur dalam penjara rumah itu.
Pelajaran utama yang bisa ku dapatkan, selama kamu percaya pada mimpimu dan terus berusaha, maka kau akan mendapatkannya. Akan ada orang yang mendukungmu serta perjalanan yang tidak terduga – duga.

 

Kos Kana 10, Yogyakarta. 11 April 2017
Lintang Fajar