Buku : Keterampilan Berpikir

Judul : Keterampilan Berpikir

Penulis : Dr. H. Adun Rusyna Drs., M.Pd

Tahun Terbit ; 2014

Penerbit : Penerbit Ombak, Yogyakarta

Awalnya saya tertarik dengan judul dan sub judulnya “Pedoman dan acuan para peneliti keterampilan berpikir”. Saya berharap akan mendapatkan buku teoretis yang bisa menjadi landasan berpikir. Kenyataan nya buku ini memadukan keduanya. Ada teori – teori praktis dan disertai contoh – contoh menjadikan buku ini cukup ringan. Ada juga saran – saran yang harus dilakukan untuk memaksimalkan kemampuan berpikir siswa oleh para guru.

Jujur saja, saya lebih banyak bingung saat membaca buku ini daripada asyiknya. Sistematika penulisannya kurang runtut, banyak pembahasan yang meloncat dari satu narasi ke narasi lain, misalnya pada pembahasan tokoh yang berjasa di bidang sains lalu tiba tiba meloncat ke konsep pembakaran. Tata bahasanya seperti tanpa jeda, seolah minum terus – menerus tanpa jeda, sehingga gelagapan dalam mencernanya. Aku agak kurang percaya buku ini ditulis oleh seorang doktor. Hehe. Yah, ini memang buku umum sih bukan jurnal, tapi akan lebih jika bahasanya lebih runtut.
Hal yang aku sukai dari buku ini adalah adanya instrumen untuk mengecek kecenderungan berpikir kreatif atau kritis. Hasilnya…. Aku jauh lebih cenderung kreatif dibanding kritis. Agak mengecewakan memang, padahal untuk akademisi seharusnya lebih kuat kritisnya. Terima lah hasilnya apa adanya…

Pekerjaan selanjutnya untukku adalah belajar berpikir kritis. Jadi teringat untuk membaca buku itu “Pengantar berpikir kritis” dari orang luar, dulu belum sempat habis tuh. 

Berpikir kritis – oh berpikir kritis. Oh, I am coming. Terima kasih Pak Adun.

Advertisements

Buku menyebalkan


Aku sudah membeli buku ini lamaa sekali. Ada satu bulan yang lalu, tetapi belum habis aku baca. Setiap membaca pengantar /pendahuluan nya saja sudah membuatku ingin membanting buku ini. Benar – benar buku yang menyebalkan (sebal dalam arti positif).

Ya, buku ini mengajak mahasiswa untuk berani ber-solo traveling. Memotivasi. Itulah masalahanya, buku ini terlalu memotivasi diriku bahwa kita bisa pergi ke luar negeri jika punya  niat dan tekad. Sebelnya adalah aku belum tahu apa arti traveling buat aku sendiri, aku baru melihat itu sesuatu yang Wow. Tapi sejujurnya, aku tidak terlalu tertarik dengan travel – travel begitu. Jika di situ tidak ada sesuatu yang ingin aku pelajari. Jika bukan karena proses pencarian dan pembelajaran, aku malas traveling, buatku membaca ceritanya saja sudah cukup.

Benar – benar menyebalkan satu buku ini. Membuatku ingin merajut asa yang lama tertimbun dalam ketakutan. Hahaha. Aku merasa untuk bisa menjadi student traveler harus menjadi mahasiswa yang baik, rajin, dan berprestasi. Aku tidak memenuhi kualifikasi itu. Aku termasuk kategori mahasiswa pemalas. Harus mengetahui apa pengaruhnya untukku sebelum melakukannya. Aku harus belajar dengan baik dan benar. Tapi untuk saat ini, aku akan memulai dengan belajar yang baik dan benar. Baik dan benar menurutku adalah mengetahui konsep dasarnya terlebih dahulu. It’s a hard task.



Perpus FT UNY, Yogyakarta. 19 April 2017

Lintang Fajar

Book : Rindu

Judul : Rindu
Penulis : Tere Liye
Tahun terbit : 2014
Penerbit : Republika, Jakarta

Exif_JPEG_420

Tak kusangka satu buah novel ini akan mengusik perasaanku. Sudah lama sejak kali terakhir aku berurusan dengan novel Indonesia. Mungkin sudah sekitar 1 – 2 tahun yang lalu aku membaca novel tebal – novel dengan jumlah halaman lebih dari 500.
Sebuah novel yang memukau untukku. Aku memang sangat suka novel yang bercerita tentang drama, terutama drama tentang perasaan pribadi, seolah – olah jalan ceritanya mengajak kita untuk intropeksi diri, untuk terus mempertanyakan tentang hal yang sebelumnya belum terlintas dalam pikiran kita.
Sekalipun novel ini berjudul “Rindu” tetapi tidak ada sosok rindu di dalamnya. Judul ini lebih kepada judul yang implisit dari sebuah perjalanan panjang. Kerinduan akan jawaban dari sebuah pertanyaan yang telah lama tersimpan. Bahkan untuk orang yang selalu memiliki jawaban untuk orang lain, tetapi ia justru tidak memiliki jawaban untuk dirinya sendiri. Kerinduan akan perasaan yang sejati, perasaan akan penerimaan yang luas. Sangat cocok untukku yang sedang menggalau, sedang mencari jawaban atas pertanyaan mendasar. Seperti yang sudah saya ceritakan dalam blog ku sebelumnya.
Cerita dalam novel ini adalah tentang pencarian jawaban dari lima tokoh utama: Daeng Andipati, Ahmad Karaeng, Ambo Uleng, Mbah Kakung dan Bonda Upe. Kelima tokoh itu bertemu dalam perjalanan Suci, menunaikan ibadah haji dengan kapal uap BLITAR HOLLAND di tahun 1938. Kapal Blitar Holland awalnya merupakan kapal kargo milik koninklijks Rotterdam yang kemudian di modifikasi menjadi kapal penumpang, dan ternyata itu lebih menguntungkan, salah satunya di gunakan untuk mengangkut jamaah haji. Kapal ini mengangkut jamaah haji dari berbagai wilayah di Indonesia, pertama dari Makassar, Surabaya, Semarang, Batavia (Jakarta), Lampung, Bengkulu, Padang, dan Banda Aceh dan transit di Kolombo (Sri langka). Perjalanan yang tidak mudah, terutama dari segi batin.
⦁ BONDA UPE
Pertanyaan pertama datang dari Bunda Upe. Bunda Upe adalah orang cina yang beragama islam. Sering memakai pakaian cina cheongsam. Bunda Upe juga orang yang suka sekali mengajar. Ia mengajar mengajar anak – anak membaca Al quran dalam Masjid Kapal. Masa lalu yang kelam di Batavia membawa dia dan suaminya – Enlai pergi ke Palu untuk belajar mengaji. Di Batavia dulunya dirinya adalah seorang cabo (Pelacur), tetapi dirinya menjadi cabo bukan karena keinginan dari dirinya melainkan karena keterpaksaan. Ia menjadi korban taruhan perjudian ayahnya. Setelah selama 15 tahun menjadi cabo level teratas di Batavia, ia pun tidak tahan dan ingin insyaf, kebetulan bertemu dengan teman masa kecilnya yang menjadi suaminya itu. Mereka memutuskan untuk pergi dari sana dan memulai kehidupan yang baru.

Pertanyaan yang diajukan adalah “Apakah Allah masih mau menerima orang penuh dosa seperti dirinya ? Apakah pantas untuk seseorang yang di dalam dirinya masih belum bisa menerima masa lalu untuk menunaikan ibadah suci ini ? ”

⦁ DAENG ANDIPATI
Daeng Andipati adalah salah satu saudagar kaya dari Makassar. Ia juga sempat belajar di Rotterdam, Belanda. Hal yang paling mengesankan dari dirinya adalah ia membiayai belajarnya secara mandiri dengan bekerja keras di Belanda, tidak meminta satu gulden pun kepada orang tuanya. —Sesuatu yang belum bisa aku lakukan, pengen sih, tapi belum bisa—. Ia juga memiliki seorang istri yang cantik dan dua orang anak perempuan yang lucu Elsa dan Anna yang menghiasi cerita novel ini dengan tingkah kekanakannya. Walaupun dari luar ia begitu sempurna, namun di dalam hatinya ia masih memiliki masalah. Ia memendam kebencian yang begitu kuat kepada Ayahnya. Ayah yang penuh dusta, dari luar terlihat sangat baik tetapi perilakunya amat buruk di keluarganya, menggunakan kekerasaan untuk hal yang sepele adalah hal yang biasa di lakukan untuk anggota keluarganya, istilah sekarang KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga).

Pertanyaan yang diajukan adalah “Apakah pantas orang seperti dirinya yang masih menyimpan rasa dendam, pergi menunaikan ibadah haji yang suci ?”

⦁ MBAH KAKUNG
Usia 80-an tahun, asal Semarang. Tokoh yang satu ini, memang kurang spesial, tetapi cinta sejatinya begitu memukau. Quote yang aku sukai

“Pendengaranku memang sudah tidak bagus lagi, Nak. Juga mataku, sudah rabun. Tubuh tua ini juga sudah bungkuk. Harus kuakui itu. Tapi aku masih ingat kapan aku bertemu istriku. Kapan aku melamarnya. Kapan kami menikah. Tanggal lahir semua anak – anak kami. Waktu – waktu indah milik kami. Aku ingat itu semua.”

Bahkan mereka melahirkan bayi mereka tanpa pertolongan bidan, cerita yang Waw. Namun naas, saat semua terasa sempurna, bahkan dengan usaha terakhir untuk menunaikan ibadah haji bersama, Tuhan berkata lain. Tuhan mengambil kembali jiwa Istri dari Mbah Kakung berpulang, sewaktu dalam perjalanan rute Banda Aceh – Kolombo. Jasad istrinya di makamkan ala pelaut, yaitu di makamkan di laut lepas, Samudra Hindia.
Pertanyaannya sederhana “Mengapa sekarang ? Mengapa Allah menyabut nyawa istrinya sekarang ? Sebelum mereka sempat haji bersama – sama ?”

⦁ AHMAD KARAENG (GURUTTA)
Ulama masyhur dari Makassar, yang ceramahnya saja bisa membuat Belanda ketakutan. Penuh dengan petuah – petuah yang bijak. Pernah belajar hingga ke Aceh, dan Yaman.
Pertanyaan yang menggelisahkannya adalah “Apakah aku pantas, orang yang mampu menulis tentang kemerdekaan tapi tidak berani melakukan hal itu secara nyata?”

⦁ AMBO ULENG
Ini adalah tokoh favoritku. Seseorang yang ikut jamaah haji, dan bekerja di kapal uap hanya untuk pergi dari perasaan yang menyemuti hatinya. Kisah di dalamnya sangat keren. Bagaimana dirinya bisa menggerakkan kapal uap dengan layar saat mesin kapal laut. dan puncaknya melumpuhkan perompak somalia dengan strateginya yang jitu.
Pertanyaan dirinya “Apakah yang harus aku lakukan untuk mengatasi perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan ini ?

“Nasib kadang bisa ditentukan oleh sesuatu yang tipis sekali. Bahkan bisa setipis kertas yang terjatuh di kantin kapal.”

“Tidak Masalah, Nak. Mata Air yang dangkal, tetap saja bermanfaat jika jernih dan tulus. Tetap segar airnya.”

“Tidak Selalu orang lari dari sesuatu karena ketakutan atau ancaman. Kita juga bisa pergi karena kebencian, kesedihan, ataupun karena harapan”
“Jika kau ingin menulis satu paragraf yang baik kau harus membaca satu buku. Maka jika di dalam tulisan itu ada beratus ratus paragraf, sebanyak itulah buku yang harus kau baca.”

Kesimpulan :
Kita tidak akan maju jika kita tidak menerima masa lalu kita apa adanya. Jika kita terus terjebak dalam kenangan yang memabukkan, akan sampai kapankah hal itu ? Memikirkan masa lalu, dan tidak belajar darinya hanya akan membebani diri sendiri. Membebani perasaan diri sendiri. Menerima masa lalu, adalah awal dari segala penerimaan yang lebih besar. Maafkanlah masa lalu, dan bukalah lembaran baru.
Berpikirlah tidak hanya dari sudut pandang, syukuri apa saja yang telah terlewat. Hidup bukan hanya tentang memikirkan perasaan pribadi, tapi ada nilai – nilai yang jauh lebih besar yang hanya bisa diterima dengan mengikhlaskan keadaan kita saat ini.

Saat pulang dari perjalanan haji, Mbah Kakung meninggal tepat atas samudra hindia. Di makamkan disamping Mbah Putri, di dalam samudra. Kuasa Tuhan, siapa yang tahu ?

Dibutuhkan keberanian untuk tidak hanya berkata. Sehebat apapun seseorang tidak akan berguna jika tidak berani berbuat secara nyata. Keberanian yang nyata, dan tekad yang kuat akan mampu menggetarkan musuh yang jauh lebih besar sekalipun.

Tentu ada lebih banyak mutiara hikmah yang bisa dipetik, tetapi aku terlalu bingung untuk menuliskan hikmah apa saja yang bisa diambil dari novel ini. Ini hanya lah tulisan kecil dari seseorang yang masih mencari jawaban atas pertanyaan dasar kehidupannya di dunia. Ada banyak sekali pertanyaanku di dunia ini, tapi aku sekarang mulai melihat, bahwa pertanyaan – pertanyaan itu tidak akan terjawab jika aku tidak bertindak nyata. Aku percaya, jawaban yang aku cari sudah ada, aku hanya perlu menjemputnya.

 

Kos Kana 10, Yogyakarta. 12 April 2017
Lintang Fajar

Book : Wither

Judul : Wither (Bagaimana Jika Kau Mengetahui Kapan Kau Akan Mati ?)
Penulis : Lauren DeStefano
Penerbit : Kantera,
Tahun Terbit : 2011

Exif_JPEG_420

Jujur saja, ketika pertama kali membaca arti maksud dari Judul Wither bagaimana jika kau mengetahui kapan kau akan mati sungguh menggegerkan rasa penasaran hati ini. But sejauh yang aku baca dari bab pertama, belum terasa momen itu. Dan kata Wither pun tidak aku dapati artinya secara tekstual. Kenapa Wither ? Aku juga belum tahu.
Kisah dalam novel ini dimulai dari dunia masa di depan dimana orang hanya akan mampu bertahan pada rentan usia dua puluh (20) tahun untuk perempuan dan dua puluh lima (25) tahun untuk laki – laki. Ini terjadi setelah perang dunia ketiga dan kemajuan teknologi yang besar – besaran di abad ke – 21, dimana semua obat dan suplemen di ciptakan untuk membuat manusia mampu bertahan di rentang usia yang jauh lebih lama. Akan tetapi, manusia lupa bahwa kemajuan teknologi dalam pengobatan yang luar biasa membuat kelainan genetik, sehingga manusia hanya mampu bertahan dalam usia yang sangat singkat. sebuah antidot (zat penyembuh kelainan genetik) mencoba untuk di ciptakan, tetapi itu membutuhkan percobaan berupa bayi – bayi muda serta manusia – manusia lain yang masih sehat. Terciptalah dua golongan yaitu pro – naturalis yang menginginkan penghentian riset antidot dan pro – saintis yang mendukung riset penemuan antidot.
Rhine, seorang perempuan muda (16) korban dari penjualan manusia untuk di jadikan pengantin muda untuk anak orang – orang kaya. Cerita ini lebih mengisahkan tentang perjuangan Rhine untuk keluar dari keluarga kaya yang telah meminangnya. Walaupun di dalam rumahnya dirinya dia mendapatkan semuanya, tetapi jiwa mudanya yang menginginkan kebebasan ternyata tidak bisa di cegah. Serta rasa simpati dan rasa enggan melihat manusia hanya dijadikan bahan eksperimen tanpa dibiarkan untuk hidup dan mati dengan sewajarnya. Rhine yang harus berpura – pura setia dan penuh pengertian dalam melayani suaminya, sesungguhnya hanyalah siasatnya untuk bisa kabur dalam penjara rumah itu.
Pelajaran utama yang bisa ku dapatkan, selama kamu percaya pada mimpimu dan terus berusaha, maka kau akan mendapatkannya. Akan ada orang yang mendukungmu serta perjalanan yang tidak terduga – duga.

 

Kos Kana 10, Yogyakarta. 11 April 2017
Lintang Fajar

Book : Andai Aku Jalan Kaki, Masihkah Engkau Selalu Ada Untukku ?

Exif_JPEG_420

Judul : Andai Aku Jalan Kaki, Masihkah Engkau Selalu Ada Untukku ?
Penulis : Edi Mulyono
Tahun Terbit : 2010
Penerbit : Yogyakarta, Diva Press

Pertama kali aku membaca judul buku ini, aku pikir ini adalah sebuah novel, ternyata buku ini adalah kumpulan cerpen. Cerpen yang ditulis oleh Edi Mulyono salah satu pendiri Diva Press. Buku yang aku baca ini ternyata adalah cetakan yang ke – 12. Lalu apa isi dari buku ini ? Aku tidak begitu pandai dalam merangkai kata. tapi aku akan mencoba menuliskan pelajaran yang aku dapatkan dari buku ini.

  1. Semua sudut pandang yang digunakan di dalam buku ini adalah sudut pandang orang pertama. Aku tidak tahu apakah yang tertulis disini adalah pengalaman atau apa. Bab satu bercerita tentang pertemanan karena seseorang memiliki banyak harta. Orang yang memiliki harta memang cenderung bisa melakukan banyak hal yang mereka mau. Dia memiliki kelebihan dalam hal kekuasaan, tetapi sering sekali hati mereka kosong. Hatinya hampa karena merasa tidak memiliki kawan – kawan yang benar – benar setia ada untuknya. Makanya penulis menyakan kepada dirinya sendiri “masihkah engkau ada untukku andai aku tidak sekaya ini ?”
  2. Cerita kedua tentang perasaan penulis yang kehilangan neneknya. Benar. Terkadang kita merasa bahwa sesuatu berharga ketika kita kehilangannya. Di suatu meme juga ada yang mengilustrasikan bahwa segala sesuatu menjadi sangat bernilai saat kita menginginkan atau kehilangan. Justru saat memilikinya, nilai itu menjadi berkurang. Sungguh luar biasa orang yang mampu bersyukur atas apa yang dimilikinya.
  3. Cerita ketiga mengisahkan tentang sebuah pertemanan diantara perempuan. ditulis dengan bahasa yang menyentuh perasaan. Hanya karena sebuah kesalahpahaman dari salah satu perempuan, ego yang ada di dalam dirinya terus muncul dan tidak mau mendengarkan penjelasan dari perempuan yang lain. Di sekitar kita pasti sering sekali ada orang yang seperti itu. Dan setelah hati kita, tenang dan menerima kenyataan bahwa hal itu adalah kesalahpahaman. Masalah sesungguhnya keluar, Beranikah kita meminta maaf ?
  4. Cerita keempat tentang pasangan yang posesif. Disini diceritakan laki – laki yang sangat mengontrol pergerakan perempuannya. Memiliki laki – laki yang sangat perhatian akan memberikan rasa nyaman, namun disisi lain, jika perhatian itu terlalu besar sehingga membuat si perempuan tidak bisa mengembangkan dirinya sendiri apakah masih layak untuk di pertahankan ?
    Mengutip dari Michael Foucault : Berbuat gilalah maka Anda akan berbeda. Tentu saja, jika kita berani melakukan sesuatu yang gila, out of the box, kita akan akan berbeda. High Risk, High Return. Besarnya sebuah impian, berbanding lurus dengan risiko yang didapatkan. Keberanian untuk melewatinya itulah yang membuat seseorang menjadi dirinya sendiri.

    Faktanya kita lebih takut memilih sesuatu bukan karena kita nggak yakin pada sesuatu itu, tapi lantaran kita takut pada ketakutan – ketakutan yang kita ciptakan sendiri pada sosok sesuatu itu, ketimbang menempuh ketakutan yang sebenarnya tak semengerikan yang kita andaikan. Kita kok cenderung memilih hidup dalam andaian belaka ya ?

  5. Cerita kelima tentang mengikhlaskan seseorang yang kita sukai. Mencintai seseorang memang hak setiap insan, tetapi merelakan adalah hal yang hanya sanggup dilakukan oleh insan sejati.
  6. Cerita keenam adalah tentang perasaan mantan pemakai narkoba yang masuk dalam jeruji besi. Bagaimana dirinya telah mengecewakan kedua orang tua, dan kepedulian dari saudaranya. Luka akan membuat kita mengenal lebih dalam tentang orang kita cintai.
  7. Cerita ketujuh adalah tentang kekhawatiran meminjamkan uang pada orang yang tidak di kenal. Apalagi orang yang meminjamkan tersebut tidak memiliki suatu jaminan, hanya cukup Allah sebagai jaminannya ? Apakah kita akan percaya ?
    Hati nurani akan menjadi jawaban yang menarik.
  8. Cerita ke delapan tentang kelebihan dari istri yang menyebalkan. Saat si Suami telah membanting tulang bekerja keras seharian, lalu di rumah disambut dengan perilaku istri yang seenaknya, tentu memberikan rasa jengah yang menumpuk, apalagi jika dilakukan setiap hari. Tetapi, disaat suami akan menalaknya, justru ia sadar bahwa istrinya itu telah memberikan sesuatu yang belum tentu mampu diberikan oleh perempuan lain. membangunkan salat subuh, menyiapkan sarapan pagi.
  9. Cerita ke sembilan adalah tentang penyesalan dari seorang pengguna Kecantikan Palsu. Tidak bisa dipungkiri bahwa melihat perempuan yang cantik akan sangat menggoda. Akan tetapi jika kecantikan itu di dapat dengan cara yang berlebihan (sedot lemak, suntik silikon, dll) maka, orang akan berpikir berkali – kali hanya sekadar untuk mencintainya dengan setulus hati. Toh kecantikan ada dua macam, inner beauty dan outer beauty. Mana yang lebih disukai ? Kembali pada pilihan masing – masing.
  10. Cerita ke sepuluh adalah tentang kekuatan tekad untuk tidak mudah termakan oleh gosip yang dalam bahasa sekarang HOAX. Orang yang mudah termakan hoax tidak pantas untuk dijadikan panutan, begitulah endingnya. So, pandai – pandailah dalam menerima setiap informasi yang ada.
  11. Cerita ke sebelas tentang perasaan suami saat chat seru dengan orang yang dikenal melalui situs daring, facebook. Bagaimana seharusnya menempatkan perasaan itu. bicara perasaan tentu tidaklah mudah.
  12. cerita ke duabelas tentang dampak Individualistis bagi banyak orang. Ego yang terlalu besar, dan tidak mau menerima pendapat orang lain, justru akan semakin merugikan baik dirinya maupun orang lain, bagaimana dirinya akan dianggap sebagai orang yang tidak bisa diajak bekerjasama. Kalo ini sifat yang masih saya punya banget. hehe

Itulah Pelajaran yang bisa saya dapatkan dari membaca buku ini. Sebuah buku yang disusun dari renungan. Sangat bagus dibaca untuk menambah khazanah kebijaksanaan. Ringan dan mudah diikuti.

 

Kos Kana 10, Yogyakarta. 11 April 2017
Lintang Fajar

Kesatria – De brief voor de koning

  • Judul buku : Kesatria – De brief voor de koningkoning
  • Penulis : Tonke Dragt
  • Tahun terbit : 2012
  • Penerbit : Pionirs books


Buku ini bersetting di Eropa dengan nama nama yang identik dengan kerajaan di jaman Abad Pertengahan. Bercerita tentang sebuah janji yang harus di tepati oleh seorang kesatria. Buku ini termasuk dalam kategori buku anak – anak. Pemeran utamanya adalah seorang anak berusia 16 tahun.

Awal dari cerita ini dimulai dengan sebuah adat tentang seorang anak sebelum di angkat menjadi kesatria. Seorang calon kesatria harus bertirakat semalam suntuk tanpa boleh keluar, sekalipun ada orang lain yang meminta tolong. Akan tetapi Tiuri melanggar perintah tersebut. “Demi Tuhan, Bukakan Pintu”, kata yang ia dengar dan membuat dia penasaran. Mulailah petualangannya mengantarkan sebuah surat ke negara tetangga, surat yang menentukan nasib sebuah negeri. Tidak ada cerita yang menarik tanpa drama. Petualangan bagaimana Tiuri bisa lolos sampai di negara bagian, bertemu dengan teman sejatinya, disangka sebagai pembunuh dan di kejar – kejar sampai hampit celaka, mendapat bala bantuan yang tidak dia sangka. Yang menarik adalah bagaimana dirinya sebisa mungkin meyakinkan dirinya bahwa orang yang disampingnya adalah kawannya.

Pelajaran yang saya dapatkan adalah :

  1. Sebuah janji, dan kepercayaan harus kita pegang kukuh, bagaimanapun keadaannya.
  2. Melanggar satu buah aturan mungkin akan membuat kita menggerutu, tetapi insting dan keyakinan melakukan hal yang benar akan membuat kita melampaui nilai dari aturan
  3.  Dalam sebuah proses pencarian, terutama pencarian jati diri, proses pencarian itulah yanh penting. Proses pencarian itulah yang membuag kita menemukan bukan penemuannya yang berarti
  4. Hal yang paling penting bukan apakah kabar yang dibawa itu membawa rasa senang atau sedih, tetapk keberhasilan menyampaikan sebuah pesan sesuai janji, dengan gagah berani, dan dengan pantang menyerah, walaupun bahaya menghadang.
  5. Setelah semua petualangan di lakukan, kita akan mampu berdiri di tempat sama tetapi dengan pandangan yang berbeda, pandangan yang lebih luas, lebih dalam dan jauh.

Nilai – nilai di dalam buku ini sangat bagus untuk di pelajari seorang anak. Tanpa teknologi yang membuat kita pusing, dengan membaca ini kita disuguhi pemandangan yang memutar imajinasi tentang keindahan alam abad pertengahan.
RE 2 FT, Yogyakarta. 5 April 2017

Lintang Fajar