Ragam Istilah Nama

Pernah menjumpai istilah fullname dan nickname dalam bahasa Inggris. Nah sebenarnya ada berapa macam sih istilah-istilah yang bisa digunakan oleh seseorang ? Saya merangkumnya sebagai berikut.

  • Nama Lengkap (fullname) : nama orang yang dilengkapi dengan semua identitas, seperti gelar (akademik, keagamaan)
    • Contoh: Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie
  • Nama Pendek (nickname)/ short name : nama akrab seseorang
    • Contoh: B.J Habibie
  • Nama julukan : sebutan untuk seseorang
    • Contoh: Mr. Krack
  • Nama gelar : nama sebutan kehormatan
    • Contoh: Prof. Dr. Ing. B.J Habibie
  • Nama keluarga (marga) : nama yang dimiliki oleh keluarga
    • Contoh: Habibie

Sumber:

Hernawan, Edi, Endang Hendayani. 2008. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SD dan MI Kelas 1. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

https://id.wiktionary.org


Kos Argulo-Yogyakarta, 13 Januari 2018

Lintang Fajar

Advertisements

Ramaikan! EduFair Pameran Pendidikan 2018 Yogyakarta

edufair-pameran-pendidikan-2018-di-hartono-mal-yogyakarta_20180108_095424
sumber: jogja.tribunnews.com

Tempat : Atrium Hartono Mall

Jl. Ringroad Utara, Sanggrahan, Kaliwaru Condong Catur, Depok, Condongcatur, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281. Telp (0274)2924095

Tanggal : 12–14 Januari 2018

Acara :

  • Edufair Goes to School
  • Lomba Robot
  • Lomba Fotografi
  • Lomba Mading 3D
  • Cooking Class
  • School Performance
  • dll

Sumber :

http://jogja.tribunnews.com/2018/01/08/ikuti-edufair-pameran-pendidikan-2018-di-hartono-mall-yogyakarta


Kos Argulo, 11 Januari 2018

Lintang Fajar

 

Kepribadianku: INTP (Ahli Logika)

Sebenarnya aku sedikit rikuh (tidak enak) dengan gelar kepribadianku. Tetapi itulah hasil yang aku dapatkan. Aku sudah sering ikut tes secara daring begini tetapi aku belum puas juga. Mungkin kalau sudah ada dana bisa saya konsultasikan langsung dengan psikolog beneran, hehe. Ini hanyalah hasil sederhana saja. Saya ingin membaginya karena saya pikir ini sebagai perkenalan, pengetahuan ke dalam diri saya, dan pemenuhan Janji (Memuaskan rasa ingin tahu dan membagikan pengetahuan). Tes saya ambil dari www.16personalities.com. Hasilnya sebagai berikut:

Ahli Logika
https://www.16personalities.com/id/kepribadian-intp

Ahli Logika berbangga diri dengan daya cipta dan kreativitas serta perspektif dan akal yang kuat yang mereka miliki.

Aku tidak sehebat itu sih, tapi untuk poin perspektif dan akal yang kuat itu memang benar. Kalau untuk daya cipta dan kreativitas aku belum pernah membuat alat-alat yang menakjubkan. Hehe.

Hidup yang Tidak Diuji Tidak Layak Dijalani

Serius ini quote setuju banget. Jika memang kita meyakini sesuatu, kita harus menguji keyakinan kita tanpa pengujian itu maka keyakinan kita bisa disangkal. Sehingga yang akhir dari yang akhir adalah kebenenaran dan keyakinan tunggal.

Orang dengan tipe kepribadian Ahli Logika sangat menyukai pola, dan menemukan perbedaan antarkalimat bisa disebut hobi, sehingga sebaiknya jangan berbohong kepada Ahli Logika.

Menemukan pola, pola di dalam kalimat ataupun menghubungkan berbagai macam hal yang kelihatannya tidak berhubungan itu hobi buat saya. Kadang saya juga heran sendiri mengapa saya memikirkan hubungan-hubungan itu. Kalau jangan berbohong sih gapapa, aku sering kok dibohongi juga. Akan tetapi, pasti nanti aku tahu, cepat atau lambat. Jadi kalau mau bohong boleh saja sih, tapi sampai tertentu ya.

Ini menjadi ironi karena kata-kata Ahli Logika seharusnya tidak dipercayai semuanya – bukan karena mereka tidak jujur, tetapi kepribadian Ahli Logika cenderung berbagi pemikiran yang belum sepenuhnya dikembangkan, menggunakan orang lain sebagai teman berdiskusi untuk memperdebatkan ide dan teori antarmereka alih-alih sebagai teman mengobrol sebenarnya.

Ini serius beneran, kata-kata yang saya ucapkan atau saya tuliskan seharusnya tidak dipercayai 100%. Jujur, iya saya memang jujur tetapi pemikiran-pemikiran yang saya miliki memang belum sepenuhnya selesai. Nah, yang parah kalau lagi ngobrol sama orang lain saya seringnya menggunakan (berbicara maksudnya) mereka sebagai teman diskusi kadang buat berdebat untuk menguji pengetahuan dan logikaku tidak hanya sebagai teman ngobrol biasa. Parah kan ? apalagi kalau bahasannya menarik, suka terbawa suasana. Wkwkwkwk. Maaf.🤣🤣🙏

Ini membuat tipe kepribadian ini terlihat tidak dapat dipercaya, tetapi nyatanya tidak ada yang lebih antusias dan mampu menemukan masalah, menggali faktor dan detail yang tidak habis-habisnya yang mengelilingi masalah dan mengembangkan solusi yang unik dan dapat dilaksanakan kecuali Ahli Logika – tetapi jangan berharap mereka memberi laporan kemajuan tepat waktu.

Serius ini juga kelihatan bener. Aku tuh juga merasa kalau aku memang bukan tipe orang yang dapat dipercaya. Memandang diri sendiri kok gini ya 😂😂😂. Akan tetapi kalau disuruh menelusuri hal-hal yang sangat detail itu berasa it’s my world. Pernah dulu sewaktu SMA kelas X hanya karena iseng ingin tahu mengapa benda dengan volume yang sama mempunyai massa yang berbeda. Saya membongkar semua buku kimia melihat-lihat tabel sistem periodik unsur  untuk mengetahuinya. Ternyata kuncinya ada di kerapatan dan jumlah atom. Itu kesimpulan sementara. Laporan ? ini malasnya, apalagi kalau formatnya macam-macam tambah malas saya. Di kuliah ini apalagi. Mencari tahu sebab akibat oke, membuat laporannya ? Nanti dulu 😂😂😂.

Orang yang memiliki tipe kepribadian Ahli Logika tidak tertarik dalam kegiatan dan pemeliharaan praktis harian, tetapi ketika mereka menemukan lingkungan tempat mereka dapat mengekspresikan kegeniusan kreativitas mereka, tidak ada batas waktu dan energi bagi Ahli Logika untuk mengembangkan solusi yang berwawasan dan tidak bias.

Sayang sekali sampai sekarang aku belum menemukan lingkungan ini. Semoga nantinya aku dapat bener-bener menemukan sehingga kreativitasku bisa aku kembangkan dengan maksimal. Aamiin.

Mereka mungkin terlihat hanya dalam lamunan tanpa akhir, tetapi proses berpikir Ahli Logika terus berjalan, dan benak mereka dipenuhi ide sejak mereka bangun tidur.

Tiada waktu satu detikpun tanpa berpikir. Inilah yang aku rasakan. Kadang suka sebel sih sama ini otak yang nggak bisa rehat barang sejenak. 😤😤😤. Bahkan yang namanya tidur lelap itu jarang buat saya.

Jika Ahli Logika merasa sangat tertarik, percakapan dapat berujung membingungkan saat mereka mencoba menjelaskan simpulan logis yang sambung menyambung yang membawa kepada pembentukan ide terakhir mereka.

Sering banget saya begini. Saya sering loncat-loncat topik kalau berbicara sih.

Biarkan Orang yang Ingin Menggerakkan Dunia Menggerakan Diri Mereka Terlebih Dahulu

Hahaha. Saya persilakan bagi orang-orang yang ingin mengubah masyarakat. Saya tinggal mendukung. Kalau saya harus memelopori, maaf saja.

Lebih jauh, Ahli Logika mungkin tidak memahami keluhan emosional sama sekali, dan teman mereka tidak akan menemukan dukungan emosional yang kuat dari mereka. Orang dengan tipe kepribadian Ahli Logika akan jauh lebih suka memberi serangkaian saran logik untuk cara memecahkan masalah yang ada, suatu perspektif yang tidak selalu disukai oleh rekan mereka yang lebih sensitif.

Kalau bersama saya tidak perlu memberi semangat, karena saya juga tidak begitu pandai memberi semangat. Saya tuh lemah dengan yang berhubungan dengan perasaan-perasaan begini. Saya lebih suka memberi saran teknis untuk menyelesaikan sesuatu dibanding memberi empati maupun simpati pada orang lain. 😙😙

Satu hal yang dapat menahan Ahli Logika adalah kegelisahan dan ketakutan yang merembet terhadap kegagalan. Kepribadian Ahli Logika sangat rentan terhadap penilaian ulang pemikiran dan teori mereka sendiri, khawatir kalau-kalau mereka kehilangan sebagian potongan teka-teki yang peting, bahwa mereka dapat menjadi stagnan, tersesat di dunia yang tidak dapat dipahami tempat pikiran mereka tidak benar-benar diterapkan. Mengatasi keraguan diri ini menjadi tantangan terbesar yang dihadapi Ahli Logika, tetapi bakat intelektual – besar dan kecil – yang dianugerahkan di dunia ketika mereka membuatnya layak diperjuangkan.

Ini pekerjaan rumah terbesar saya saat ini. Mengatasi keraguan diri.

Semoga saya diberi kekuatan untuk memberikan yang tebaik kepada dunia ini.


Perpus UNY-Yogyakarta, 7 Januari 2018

Lintang Fajar

Semangat Rasa Ingin Tahu

Modal utama untuk menjadi filosof yaitu rasa ingin tahu, itu menurut Joostein Gardner dalam Dunia Sophie. Saya teringat dulu ketika masih anak-anak saya dikenal dengan anak yang sangat banyak bertanya ini dan itu. Misalnya ketika melihat semut berjalan beriringan aku bertanya kepada ibuku “kenapa semut jalannya begitu ?” Ibuku tidak bisa menjawab atau kadang kalau bosan mendengar pertanyaanku dijawab takdir. Banyaknya pertanyaan yang tidak bisa terjawab membuatku mencari-cari jawaban itu dalam buku-buku yang kubaca. Saat SD dan SMP itu adalah masa-masa aku begitu menyukai bacaan sebagai ilmu pengetahuan. Semakin dewasa justru semakin jarang aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang nyeleneh.

Rasa ingin tahu adalah suatu emosi yang berkaitan dengan perilaku ingin tahu seperti eksplorasi, investigasi, dan belajar (http://www.berbagaireviews.com/2014/08/rasa-ingin-tahu-kuriositas.html). Rasa ingin tahu juga menjadi modal dasar pencarian fakta-fakta ilmiah. Sebuah proses yang menjadikan manusia bukan seonggok daging dan tulang yang berpikir.

Akhir-akhir ini (dalam kurun tahunan) aku merasa produktivitasku terus berkurang. Aku seperti berpusar pada rencana-rencana yang tidak terlaksana. Mempunyai mimpi, membuat rencana, loss tidak dilaksanakan. Aku terkadang selalu bertanya-tanya mengapa selalu berakhir di tahap rencana ? Sampai tadi selesai membaca novel Sophie aku menemukan kembali apa yang hilang. Semangat ingin tahu yang menjadi motivasi terkuat telah kutinggalkan. Aku terjebak dalam cara berpikir manusia modern yang memusatkan perhatian pada destiny atau tujuan.

Setiap manusia memiliki motivasi mereka masing-masing. Ada yang motivasinya menjadi dokter, ada juga yang ingin membahagiakan orangtua, ada yang ingin menjadi penguasa, memiliki anak berprestasi, atau yang kekinian memiliki banya follower. Tentu saja aku juga ingin membahagiakan orang tuaku, hanya saja menggunakan cara orang lain dalam prosesnya, itu bukan gayaku. Setiap menonton film apapun itu, pasti ada momen yang mana tokoh protagonis memiliki satu alasan kuat mengapa ia melakukan hal tersebut. Itulah yang belum aku miliki sejauh ini.

Semangat rasa ingin tahu yang tinggi, itulah bahan bakar utama motivasiku. Aku melupakannya. Sesuatu yang membuatku bisa tersenyum. Lalu apa yang ingin aku lakukan setelah aku tahu motivasiku ? Apa bakti yang ingin aku berikan ? Hanya ada satu Memuaskan rasa ingin tahu dan membagikan pengetahuanku. Just It !


Perpus UNY-Yogyakarta, 7 Januari 2018

Lintang Fajar

Novel: Dunia Sophie [1]

Judul : Dunia Sophiedunia-sophie

Penulis : Joostein Gaardner

Cetakan : 2016, Terbit pertama: 1991

Penerbit : Mizan

“Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya.” Goethe

Sophie Amundsmen, seorang pelajar sekolah menengah berusia empat belas tahun. Suatu hari sepulang sekolah, dia mendapat sebuah surat misterius yang hanya berisikan satu pertanyaan: “Siapa kamu?” Belum habis keheranannya, pada hari yang sama dia mendapat surat lain yang bertanya: “Dari manakah datangnya dunia?” Seakan tersentak dari rutinitas hidup sehari-hari, surat-surat itu membuat Sophie mulai mempertanyakan soal-soal mendasar yang tak pernah dipikirkannya selama ini. Dia mulai belajar filsafat. Melalui surat dan pesan-pesan misterius Alberto Knox mengajarkan filsafat kepada Sophie. Mereka tidak tahu bahwa ternyata yang mereka lakukan hanya sebuah imaji dari seorang Mayor Albert Knag yang sedang menyiapkan hadiah ulang tahun putrinya, Hilde Moller Knag.

Novel ini termasuk kategori novel filsafat. Saya pertama kali membaca hanya karena iseng. Di bagian depan Cover tertulis sebuah novel filsafat dan memang benar isinya berisi tentang sejarah pemikiran filsafat dari zaman Yunani Kuno sampai zaman sekarang, dari zaman asal benda hingga zaman humanisme berlangsung. Sekalipun aku sudah membacanya, aku tidak benar-benar memahaminya alias bingung. Rasa-rasanya seperti memadatkan silabus satu tahun dalam kuliah tiga hari. Muntab, itulah aku. Beberapa uraian bisa dengan mudah saya pahami, terutama uraian benda materiil, tetapi untuk uraian yang abstrak seperti konsep-konsep ide, mitos para dewa, dan logika-logika kebebasan.

Hal itu membuat novel ini memusingkan sekaligus menarik ditambah dengan latar budaya barat yang berbeda dengan Indonesia. Jika di dunia barat logika menempati urutan pertama pencarian kebenaran sedangkan di Indonesia [setahuku] menerapkan konsep kebatinan yang mendalam, Ah, entahlah aku juga gak tahu. Hehehe. Membaca novel ini juga membawaku berpetualang dalam ide-ide kemanusiaan. “Apa yang dimaksud manusia?”, “Dari mana kita berasal?”, “Benarkah kematian itu ada?” itu semua dijelaskan dengan logika tidak hanya menerima doktrin bahwa itu benar atau salah. Inilah yang disebut proses pencarian kebenaran.

Penyajian pelajaran filsafat disini sangat sistematis dimulai dari tokoh-tokoh Yunani kuno seperti Socrates, Thales, Empedocles, Archimedes, Democritus,Plato, dll. Lalu ke zaman helenisme yaitu zaman Romawi dengan tokohnya Cicero, Aristhippus, dll. Sampai juga zaman agama Tuhan tentang Yesus, Paulus, Kredo, dll. Di abad pertengahan ada Thomas Aquinos, dan di abad Renaissans dengan tokoh utamanya Rene Descartes yang terkenal akan slogannya “Aku berpikir maka aku ada”, apa makna yang sesungguhnya dari ucapannya itu? Bahkan sampai memasukkan filsafat dari Montesquieu, Locke yang notabene tokoh politik lalu Charles Darwin dengan teori evolusi manusianya. Hingga Pembentukan alam semesta yang terkenal melalui teori Dentuman besar. Dari penjelasan “mikrokosmos” sampai “makrokosmos”, dari bahan konkret sampai abstrak semua coba dijelaskan dengan logika. Mantap betul. Aku jadi benar-benar ingin mempelajari satu per satu teori dan tokoh filsafat tersebut kemudian menjadikannya satu kesatuan pembelajaran umat manusia. Dan juga bagaimana sebenarnya budaya Indonesia memandang pencarian kebenaran ??? bisakah diterapkan di era sekarang yang lebih mengutamakan logika ?

Yah, sayangnya e-book yang saya baca banyaknya yang blok halamannya jadi terpisah-pisah tapi kalau sekadar mau menengok dan iseng sih oke. Atau dari teman-teman ada yang punya versi penuhnya ?

Ini sumber bacaku: www.umpalangkaraya.ac.id/dosen/dwisariusop/wp-contentuploads/2016/11/dunia-sophie-NOVEL.pdf

#Resolusi 2018


Kos Argulo-Yogyakarta, 6 Januari 2018

Lintang Fajar

Resolusi-ku 2018

Sepanjang tahun 2017 juga saat awal 2017 aku tidak membuat resolusi karena aku tidak pernah berpikir akan benar-benar menginginkan sesuatu. Jalani saja apa yang ada, terbuka dengan kemungkinan-kemungkinan baru, menyesuaikan situasi, mencari siapa aku, dsb. Tahun 2017 berjalan lebih ke arah internal pribadiku. Di tahun 2018 ini aku ingin mengubah mentalitas diriku. Proses penerimaan diriku sudah kucukupkan 2018 saatnya bekerja keras dan menggapai apa yang kuimpiikan sejak lama dengan mengatur ritme dalam tab-tab aktivitas terkontrol. Aku berharap tulisan tentang resolusi 2018-ku ini bisa memberi semangat dan stimulus internal kepada diriku sendiri. Sebuah deklarasi artinya mengumumkan komitmen personal kepada khalayak umum untuk kemudian di-support atau dikritik atas rencana-rencana yang telah disusun.

Resolusi-ku ini terfokus dalam lima kategori: pekerjaan, bacaan, sepeda, kemampuan, dan ibadah. Lima hal tersebut hanyalah target dan impian lama yang selalu tertunda. Apakah tahun ini akan menjadi sebuah senyuman terealisasikan ???

1. Membaca 1000 buku

Tidak realistis. Hal pertama yang terpikirkan di dalam benak-ku ketika aku memutuskan misi ini ditulis pada resolusi 2018. Alasannya utamanya karena sampai saat ini dalam satu tahun kalender yang telah lewat aku hanya mampu membaca sekitar 100-an buku. Sekarang mau langsung 1000 buku dengan disertai aktivitas lain ? Yan benar saja. Ini pun belum termasuk review buku tersebut. Masih ada menerbitkan tulisan di Blog. Mission Impossibel.

2. Menempuh 5.000 km dengan sepeda

Tidak kalah realistis. Jika itu hanya seribu aku rasa masih memungkinkan. Tahun lalu saja aku bisa menempuh 200-an km. Sekarang 5.000 ? Gila sudah. Aku masih menambahkan bahwa 5.000 km ini harus perjalanan tercatat. Jika tidak tercatat tidak akan masuk hitungan.

3. Membuat 10 rangkaian atau aplikasi serta paham cara kerjanya

Aku anak teknik, namun sejauh ini aku belum mampu secara mandiri membangun pondasi rekayasa. Ini big plan belajar sainsku. Bersanding dengan resolusi 1000 buku, apa aku akan berhasil mengombinasikan hal ini menjadi sebuah karya yang bisa kubanggakan. Jika itu hanya 10 rangkaian atau aplikasi tanpa menyantumkan cara kerjanya, aku yakin bisa. Akan tetapi memahaminya ? Wkwkwk.

4. Salat wajib 67 hari tanpa bolong

Ini memalukan. Sungguh! Sebagai seorang laki-laki yang mengaku muslim tidak bisa menunaikan kejawiban sederhana ini. Padahal laki-laki kan tidak memiliki udzur sebagaimana permpuan. Apakah aku masih berhak untuk mengaku berjuang demi agamaku jika salat saja aku tidak bisa rutin. Semoga Tuhan mengampuni yang telah kulakukan dalam proses pencarian diriku.

5. Mendapatkan pekerjaan

Tidak harus pekerjaan yang Wah! Cukup sebuah kegiatan yang membuatku bisa mendapatkan penghasilan. Aku ingin memiliki uang atas usahaku sendiri, tidak lagi mengandalkan uang orangtua ataupun beasiswa keluarga miskin. Boleh full time ataupart time. Dengan kepribadian introvert ini apakah aku akan berhasil ? Menarik untuk disimak.

Sebuah kebodohan dan kegilaan dari seorang Lintang Fajar membuat perencanaan yang tidak realistis. Fakta bahwa aku mudah tergoda dengan mood yang tidak selalu bagus masih saja nekat membuat rencana yang jauh arang dari api. Ditambah sekarang sudah hari ke-4 jam 19:20, hanya tersisa 361 hari lagi. Jika boleh mengutip dari mbak viadravia yang baru saja kubaca:

“Sebaik-baiknya kegagalan adalah apa yang pernah kita usahakan. Lebih baik mencoba tapi gagal daripada mengaku gagal padahal mencoba saja belum.”

Aku ingin melihat sejauh mana diriku melangkah dengan target rencana diatas. Semoga Tuhan merestuiku.

#Resolusi2018


Kos Argulo-Yogyakarta, 4 Januari 2018

Lintang Fajar

Pengenalan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)

PUEBIPenggunaan Bahasa Indonesia yang baik, benar dan teratur amat penting bagi bangsa Indonesia. Sehubungan dengan itu dibutuhkan suatu standar acuan penyusunan ejaan bahasa. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) adalah sarana dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan standar penyusunan bahasa Indonesia yang baku, baik dan benar. PUEBI merupakan penyempurnaan dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEYD). Jika selama ini masyarakat mengenal EYD maka sekarang harus diganti dengan EBI sebagai standar penyusunan bahasa yang baru. Hal ini sesuai dengan amanat Permendikbud RI Nomor 50 tahun 2015. Sejarah penyusunan ejaan bahasa Indonesia dapat dilihat disini.

Adanya Pembaruan Ejaan bahasa tidak terlepas dari perkembangan bahasa itu sendiri. Dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan asosiasi kebudayaan menyemarakkan ragam penggunaan bahasa Indonesia baik dalam ranah lisan maupun tulisan. Pemutakhiran pedoman ini juga bertujuan untuk memantapkan posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara.

Hal yang perlu diketahui dalam Permendikbud RI Nomor 50 Tahun 2015 tentang PUEBI;

1. Pasal 1

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia dipergunakan bagi instansi pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

2. Pasal 2

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Aturan-aturan penulisan ejaan bahasa Indonesia dengan kaidah EBi meliputi:

A. PEMAKAIAN HURUF

B. PENULISAN KATA

C. PEMAKAIAN TANDA BACA

D. PENULISAN UNSUR SERAPAN

Untuk penjelasan lengkapnya silakan pilih masing-masing tautan yang ingin diketahui.


Sumber : badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/PUEBI.pdf

Santren-Yogyakarta, 2 Januari 2018

Lintang Fajar